Kompas.com - 17/12/2020, 13:58 WIB
Elang bondol (Haliastur indus) yang menjadi maskot dalam ajang Asian Para Games 2018. Elang bondol (Haliastur indus) yang menjadi maskot dalam ajang Asian Para Games 2018.

Elang Bondol

Elang bondol (Haliastur indus) termasuk jenis satwa langka dan penyebarannya di DKI Jakarta terbatas pada gugusan Kepulauan Seribu.

Burung ini memiliki kemampuan terbang yang sangat prima serta mempunyai ketajaman mata dalam mencari mangsa.

"Perilaku ini dapat dijadikan simbol untuk warga Jakarta yang selalu dinamis, tangkas dan cepat dalam bertindak," tulis Keputusan Gubernur Nomor 1796 Tahun 1989.

Menurut arsip Kompas.com, elang bondol lebih mirip burung pemakan bangkai dibanding burung pemangsa seperti elang lain.

Baca juga: 5 Fakta Elang Bondol, Si Maskot Jakarta yang Kawin di Udara

Burung ini berukuran sedang (43-51 cm), memiliki sayap yang lebar dengan ekor pendek dan membulat ketika membentang. Bagian kepala hingga dadanya berwarna putih, sedangkan sisanya berwarna merah bata.

Elang bondol bisa terbang di ketinggian 20 hingga 50 meter di atas permukaan tanah. Selain memangsa hewan yang ada di darat, ia juga mahir menangkap ikan, kepiting, dan katak.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut Ketua Jakarta Animal Aid Network (JAAN) Bevinka elang, termasuk elang bondol, bisa dijadikan sebagai indikator kebersihan suatu wilayah.

Jika di suatu wilayah masih terdapat banyak elang, maka itu menandakan bahwa wilayah tersebut bersih dari berbagai polusi. Di Jakarta sendiri elang bondol hanya ditemukan di wilayah Kepulauan Seribu.

Ambang kepunahan

Kebun Cagar Buah Condet menjadi satu dari sedikit lahan tersisa di Jakarta yang masih ditumbuhi salak condet. Tanaman itu pun saat ini terbatas hanya ada di Kelurahan Balekambang, Condet.

Padahal dahulunya, hingga 1980-an, pohon salak condet mendominasi kebun-kebun milik warga yang tersebar di empat kelurahan di kawasan Condet, yakni kelurahan Balekambang, Batuampar, Gedong dan Tengah.

Masa 1990-an menjadi awal perubahan nasib tanaman keluarga palem-paleman tersebut. Arus urbanisasi yang deras ke Ibu Kota mendorong masifnya alih fungsi lahan menjadi kawasan permukiman penduduk.

Pohon salak dibabat, dinding-dinding rumah dibangun. Kawasan yang dahulunya ditumbuhi salak condet telah berubah menjadi kawasan padat penduduk.

Baca juga: Kisah Pengelola Cagar Buah Condet Pertahankan Maskot Jakarta

Berdasarkan laporan Warta Kota, hanya segelintir elang bondol yang masih tampak mengudara di wilayah Kepulauan Seribu. Padahal dulunya burung ini cukup mudah ditemui.

Benvika menggambarkan hal tersebut sebagai "sesuatu yang mengkhawatirkan". Dari tahun ke tahun, populasi elang bondol di Jakarta mengalami penyusutan drastis.

"Pada 2012 saja, kita hanya temukan sekitar 22 ekor elang bondol," ujar pendiri Pusat Konservasi Elang Bondol di Pulau Kotok, Kabupaten Kepulauan Seribu, tersebut.

Secara terpisah, Situs Hijau Indonesia hijauku.com menyebut keberadaan elang bondol semakin terancam dengan adanya mega proyek reklamasi di wilayah pesisir Jakarta.

Koordinator Komunitas Indonesian Friends of the Animals (Ifota) Marison Guciano mengatakan bahwa elang bondol bukanlah burung migran yang suka berpindah-pindah tempat.

"Oleh karena itu, mega proyek reklamasi 17 pulau buatan di utara Jakarta yang menggusur habitat elang bondol dipastikan akan menyebabkan kepunahan maskot Jakarta ini," tuturnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Satpol PP Depok Bongkar Bangunan Ilegal dan Tertibkan Parkir Liar di Kolong Flyover Arif Rahman Hakim

Satpol PP Depok Bongkar Bangunan Ilegal dan Tertibkan Parkir Liar di Kolong Flyover Arif Rahman Hakim

Megapolitan
Haikal Hassan: Jangan Berbondong-bondong ke Jakarta! Kalau Kasus Covid-19 Tinggi, Reuni 212 Disalahin...

Haikal Hassan: Jangan Berbondong-bondong ke Jakarta! Kalau Kasus Covid-19 Tinggi, Reuni 212 Disalahin...

Megapolitan
Besi Penutup Proyek Crossing di Pintu Air Jagakarsa Hilang

Besi Penutup Proyek Crossing di Pintu Air Jagakarsa Hilang

Megapolitan
Sopir Mercy yang Lawan Arah lalu Tabrak 2 Mobil di Tol JORR Ditetapkan Jadi Tersangka

Sopir Mercy yang Lawan Arah lalu Tabrak 2 Mobil di Tol JORR Ditetapkan Jadi Tersangka

Megapolitan
Turap Saluran di Jalan Pluit Sakti Raya Longsor, Perbaikan Ditargetkan Rampung dalam 2 Minggu

Turap Saluran di Jalan Pluit Sakti Raya Longsor, Perbaikan Ditargetkan Rampung dalam 2 Minggu

Megapolitan
Warga Joglo Bisa Setor Minyak Jelantah ke PKK RW, Tiap Liter Dihargai Rp 3.300

Warga Joglo Bisa Setor Minyak Jelantah ke PKK RW, Tiap Liter Dihargai Rp 3.300

Megapolitan
Wakil Wali Kota Depok Pertanyakan Data Kejaksaan soal Kenaikan Kasus Pelecehan Seksual terhadap Anak

Wakil Wali Kota Depok Pertanyakan Data Kejaksaan soal Kenaikan Kasus Pelecehan Seksual terhadap Anak

Megapolitan
Wagub DKI Minta Pemerintah Pusat Revisi PP yang Bikin UMP Hanya Naik Sedikit

Wagub DKI Minta Pemerintah Pusat Revisi PP yang Bikin UMP Hanya Naik Sedikit

Megapolitan
Wagub DKI Ungkap Pengusaha Tak Masalah UMP Jakarta 2022 Naik sampai 5 Persen

Wagub DKI Ungkap Pengusaha Tak Masalah UMP Jakarta 2022 Naik sampai 5 Persen

Megapolitan
Kasus Pengemudi Mercy Tabrakan Saat Lawan Arah di Tol JORR, Polisi Tunggu Hasil Mediasi dengan Korban

Kasus Pengemudi Mercy Tabrakan Saat Lawan Arah di Tol JORR, Polisi Tunggu Hasil Mediasi dengan Korban

Megapolitan
Pegawai Korban Pelecehan Berharap KPI Segera Jalankan Rekomendasi Komnas HAM

Pegawai Korban Pelecehan Berharap KPI Segera Jalankan Rekomendasi Komnas HAM

Megapolitan
PPKM Kota Tangerang Kembali ke Level 2, Pemkot Akan Tingkatkan Tracing Covid-19

PPKM Kota Tangerang Kembali ke Level 2, Pemkot Akan Tingkatkan Tracing Covid-19

Megapolitan
Saat Anies Lesehan di Jalan Bersama Buruh yang Demo Menuntut Kenaikan UMP…

Saat Anies Lesehan di Jalan Bersama Buruh yang Demo Menuntut Kenaikan UMP…

Megapolitan
Polres Jakpus Tangkap 4 Anggota Sindikat Bandar Narkoba Jaringan Malaysia

Polres Jakpus Tangkap 4 Anggota Sindikat Bandar Narkoba Jaringan Malaysia

Megapolitan
Pengetatan di Bandara Soekarno Hatta untuk Cegah Omicron, WNA dari 11 Negara Dilarang Masuk, WNI Karantina 14 Hari

Pengetatan di Bandara Soekarno Hatta untuk Cegah Omicron, WNA dari 11 Negara Dilarang Masuk, WNI Karantina 14 Hari

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.