Tembok Penghalang Akses Rumah di Ciledug Dirobohkan, Penghuni Lega dan Janji Polisi Usut Pengacungan Golok

Kompas.com - 18/03/2021, 10:14 WIB
Tembok sepanjang 300 meter yang berdiri di Tajur, Ciledug, Kota Tangerang, Banten, sedang dihancurkan oleh Pemerintah Kota Tangerang pada Rabu (17/3/2021) pagi. KOMPAS.com/MUHAMMAD NAUFALTembok sepanjang 300 meter yang berdiri di Tajur, Ciledug, Kota Tangerang, Banten, sedang dihancurkan oleh Pemerintah Kota Tangerang pada Rabu (17/3/2021) pagi.

Herry mengeklaim, pihaknya merupakan pemilik sah dari tanah di bawah tembok setinggi dua meter itu.

Baca juga: Pembangun Tembok yang Dihancurkan Aparat di Ciledug Bakal Kembali Bangun Dinding

"Kami adalah pemilik sah dari tanah ini berdasarkan surat-surat yang kami miliki," kata Herry ketika ditemui, Rabu siang.

Herry mengaku telah menunjukkan bukti kepemilikan yang ia miliki atas tanah tersebut, yakni berupa akta jual beli (AJB) ke petugas yang membongkar dinding.

"Tentunya saya tidak ingin melawan aparat yang sedang melakukan pembongkaran ini," ungkap Herry.

"Kami tadi coba memberikan kepada pihak yang berwajib, yang bekerja di sini, untuk berhenti, tetapi tidak diterima," imbuh dia.

Oleh karena itu, Herry mengaku akan kembali membangun tembok di tanah yang ia klaim itu.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Kami akan meneruskan kepemilikan tanah ini dan kami akan memasang pagarnya kembali," ujar Herry.

Pemkot Tangerang larang pendirian kembali tembok

Merespons wacana pendirian tembok kembali, Asisten Daerah 1 Pemerintah Kota Tangerang Ivan Yudhianto menyatakan bahwa pihak keluarga Herry dilarang membangun kembali tembok tersebut.

Sebab, kata Ivan, AJB milik pihak keluarga Herry yang disebut sebagai bukti kepemilikan tanah itu sudah tak lagi berlaku.

Pasalnya, lanjut dia, gedung fitness tersebut berbatasan dengan jalan umum bila mengacu pada seritifkat nomor 64 dan 65 Tahun 1994.

Baca juga: Pemkot Tangerang: Kalau Tembok di Ciledug Dibangun Kembali, Ya Dibongkar Lagi

"Ya AJB-nya sudah enggak berlaku. Kan sudah ada sertifikatnya (Nomor 64 dan 65 Tahun 1994)," kata Ivan ketika ditemui di lokasi pembongkaran, Rabu siang.

"Makanya kalau ada berkeberatan, silakan gugat ke pengadilan biar jelas," imbuhnya.

Selain itu, pendirian kembali tembok atau bangunan di atas jalan umum melanggar Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 Tentang Jalan.

"Jelas-jelas tidak boleh mendirikan bangunan di atas jalan umum. Di UU Nomor 38 Tahun 2004 Tentang Jalan Pasal 12, jelas menyebutkan tidak boleh mengganggu fungsi jalan," papar dia.

Berdasar dua alasan tersebut, bila Herry beserta keluarga membangun kembali dinding di lokasi yang sama, maka aparat akan mengancurkan lagi temboknya.

"Kalau dibangun lagi, ya dibongkar lagi," ujar Ivan.

Halaman:


Video Rekomendasi

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tiga Rusun di Cilincing Jadi Posko Vaksinasi Covid-19

Tiga Rusun di Cilincing Jadi Posko Vaksinasi Covid-19

Megapolitan
Kasus Covid-19 di Jakarta Meledak, Epidemiolog: Solusinya Hanya Lockdown

Kasus Covid-19 di Jakarta Meledak, Epidemiolog: Solusinya Hanya Lockdown

Megapolitan
Fakta Pelecehan Seksual terhadap Seorang Ibu di Tebet: Pelaku Kelainan Jiwa hingga Dibebaskan

Fakta Pelecehan Seksual terhadap Seorang Ibu di Tebet: Pelaku Kelainan Jiwa hingga Dibebaskan

Megapolitan
Virus Corona Varian Delta Dikhawatirkan Lebih Mudah Menyerang Anak-anak

Virus Corona Varian Delta Dikhawatirkan Lebih Mudah Menyerang Anak-anak

Megapolitan
Fakta Rizieq Shihab Tanggapi Replik Jaksa: Tidak Berkualitas hingga Merasa Belum Pantas Disebut Imam Besar

Fakta Rizieq Shihab Tanggapi Replik Jaksa: Tidak Berkualitas hingga Merasa Belum Pantas Disebut Imam Besar

Megapolitan
Fakta Pandemi Covid-19 Jakarta Memburuk: Tembus 4.000 Kasus Baru, Varian Baru Mengganas

Fakta Pandemi Covid-19 Jakarta Memburuk: Tembus 4.000 Kasus Baru, Varian Baru Mengganas

Megapolitan
Pemkot Tangerang Perpanjang PPKM Mikro, Simak Pengaturannya

Pemkot Tangerang Perpanjang PPKM Mikro, Simak Pengaturannya

Megapolitan
Cerita Pedagang Sepeda Saat Tren Gowes Menurun: Dulu Ludes, Kini Rugi Ratusan Juta Rupiah

Cerita Pedagang Sepeda Saat Tren Gowes Menurun: Dulu Ludes, Kini Rugi Ratusan Juta Rupiah

Megapolitan
PPDB SD Jalur Zonasi di Kota Tangerang Masih Dibuka

PPDB SD Jalur Zonasi di Kota Tangerang Masih Dibuka

Megapolitan
UPDATE: Tambah 230 Kasus Covid-19 di Kabupaten Bekasi, 1.267 Pasien Masih Dirawat

UPDATE: Tambah 230 Kasus Covid-19 di Kabupaten Bekasi, 1.267 Pasien Masih Dirawat

Megapolitan
Kilas Balik Peresmian MRT Jakarta yang Disambut Sorak-sorai Warga...

Kilas Balik Peresmian MRT Jakarta yang Disambut Sorak-sorai Warga...

Megapolitan
UPDATE: Tambah 56 Kasus di Kota Tangerang, 471 Pasien Covid-19 Masih Dirawat

UPDATE: Tambah 56 Kasus di Kota Tangerang, 471 Pasien Covid-19 Masih Dirawat

Megapolitan
[POPULER JABODETABEK] Daftar Hotel dan Tempat Isolasi Mandiri di DKI | Kasus Covid-19 Meledak

[POPULER JABODETABEK] Daftar Hotel dan Tempat Isolasi Mandiri di DKI | Kasus Covid-19 Meledak

Megapolitan
4 Fakta Sindikat Preman di Tanjung Priok, Berkedok Jasa Pengamanan hingga Raup Ratusan Juta Rupiah

4 Fakta Sindikat Preman di Tanjung Priok, Berkedok Jasa Pengamanan hingga Raup Ratusan Juta Rupiah

Megapolitan
Tren Kasus Positif Covid-19 pada Anak-anak Meningkat, Balita Ikut Jadi Korban

Tren Kasus Positif Covid-19 pada Anak-anak Meningkat, Balita Ikut Jadi Korban

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X