Kompas.com - 29/03/2021, 06:03 WIB
Sekretaris Jenderal Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI) Gita Noviandi menunjukkan koleksi prangko di Gedung Filateli Jakarta, Selasa (23/3/2021). KOMPAS.com/IRA GITASekretaris Jenderal Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI) Gita Noviandi menunjukkan koleksi prangko di Gedung Filateli Jakarta, Selasa (23/3/2021).

Seorang filatelis yang ingin berbisnis dengan benda-benda pos tentunya harus pandai menawarkan prangko-prangko yang dijualnya.

"Jual prangko harus ada ilmunya, harus dijelasin kenapa harus beli itu, misalnya itu langka atau satu-satunya, mungkin belum pernah keluar, itu yang daya tarik kolektor buat ngumpulin," jelasnya.

Salah satu nilai jual dari benda filateli adalah kelangkaan dan keunikan, serta cerita di balik pembuatannya.

Baca juga: Museum Pos Indonesia di Bandung, Ada Prangko Pertama di Dunia

Semakin langka dan unik, maka filateli akan semakin bernilai tinggi.

Menurut Gita, belum banyak masyarakat Indonesia yang mengetahui potensi investasi di dunia filateli.

Bersama PFI, Gita ingin mengedukasi masyarakat untuk menyebarkan informasi sebanyak-banyaknya tentang filateli.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Di Indonesia masih banyak orang mungkin prangko ini dianggap sampah, kalau udah tahu jalurnya, udah deh itu luar biasa," ujar Gita.

"Makanya tugas organisasi ini kami ingin mangedukasi lagi ke masyarakat, jangan sampai enggak tahu filateli," tambahnya.

Halaman:


Video Rekomendasi

Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

LBH Jakarta Nilai Draf Revisi Perda Covid-19 DKI Jakarta Bias Kelas

LBH Jakarta Nilai Draf Revisi Perda Covid-19 DKI Jakarta Bias Kelas

Megapolitan
Krematorium di TPU Tegal Alur Beroprasi, Kapasitas 5 Jenazah per Hari

Krematorium di TPU Tegal Alur Beroprasi, Kapasitas 5 Jenazah per Hari

Megapolitan
Anies Ajak Warga yang Sudah Divaksin Covid-19 Ikut Sosialisasikan Vaksinasi

Anies Ajak Warga yang Sudah Divaksin Covid-19 Ikut Sosialisasikan Vaksinasi

Megapolitan
Buaya Sepanjang 1,7 Meter Ditemukan di Selokan di Tambora

Buaya Sepanjang 1,7 Meter Ditemukan di Selokan di Tambora

Megapolitan
Polisi: Pelaku Pembacokan Tukang Sayur di Serpong Utara 5 Orang

Polisi: Pelaku Pembacokan Tukang Sayur di Serpong Utara 5 Orang

Megapolitan
Geng Motor Bacok Tukang Sayur di Serpong Utara, Rampas Ponsel dan Uang

Geng Motor Bacok Tukang Sayur di Serpong Utara, Rampas Ponsel dan Uang

Megapolitan
Boarding Pass KA Jarak Jauh Kini Terintegrasi Aplikasi Peduli Lindungi

Boarding Pass KA Jarak Jauh Kini Terintegrasi Aplikasi Peduli Lindungi

Megapolitan
Kasus Covid-19 di Tangsel Meningkat pada Pekan Terakhir PPKM Level 4, Seperti Apa Penularannya?

Kasus Covid-19 di Tangsel Meningkat pada Pekan Terakhir PPKM Level 4, Seperti Apa Penularannya?

Megapolitan
Tabrak Pembatas Jalur Sepeda Sudirman, Mobil Berpelat RFS Terguling di Dekat Gedung Kemenpan-RB

Tabrak Pembatas Jalur Sepeda Sudirman, Mobil Berpelat RFS Terguling di Dekat Gedung Kemenpan-RB

Megapolitan
Cara Mendaftar Vaksin Dosis Kedua Via JAKI

Cara Mendaftar Vaksin Dosis Kedua Via JAKI

Megapolitan
Tak Punya Uang, Pemkot Bekasi Belum Bayar Insentif Nakes Januari-Mei 2021

Tak Punya Uang, Pemkot Bekasi Belum Bayar Insentif Nakes Januari-Mei 2021

Megapolitan
Kepala Puskesmas di Tangerang Gugur setelah Terinfeksi Covid-19

Kepala Puskesmas di Tangerang Gugur setelah Terinfeksi Covid-19

Megapolitan
Meski Kasus Covid-19 Turun, Jakarta Masih Kekurangan Nakes

Meski Kasus Covid-19 Turun, Jakarta Masih Kekurangan Nakes

Megapolitan
Tingkat Keterisian Rumah Sakit di Jakarta Turun Jadi 77 Persen

Tingkat Keterisian Rumah Sakit di Jakarta Turun Jadi 77 Persen

Megapolitan
UPDATE 24 Juli: Depok Tambah 712 Kasus Positif Covid-19

UPDATE 24 Juli: Depok Tambah 712 Kasus Positif Covid-19

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X