Mereka Menjaring "Ranjau" Ibu Kota

Kompas.com - 07/01/2014, 07:34 WIB
Seorang pengendara tengah memeriksa kendaraannya yang terkena ranjau paku di depan Istana Negara, Jakarta, Selasa (9/4/2013). KOMPAS.com/Sandro GatraSeorang pengendara tengah memeriksa kendaraannya yang terkena ranjau paku di depan Istana Negara, Jakarta, Selasa (9/4/2013).
EditorAna Shofiana Syatiri

Sosiolog Universitas Airlangga, Surabaya, Bagong Suyanto, berpendapat, umumnya alasan bertahan hidup menjadi motivasi para pelaku penebaran paku itu. Mereka merupakan irisan dari komunitas urban yang tidak mampu menaikkan mobilitas, sementara persaingan dan biaya hidup di Ibu Kota kian tinggi.

Menurut Bagong Suyanto, persoalan itu pertama-tama belum dapat dilihat sebagai persoalan hukum atau moralitas, tetapi persoalan sosial. Pada satu sisi, mereka dapat didudukkan sebagai tersangka, tetapi pada sisi lain mereka adalah kelompok yang tidak mampu berhadapan dengan situasi sosial perkotaan.

Langkah polisi

Terkait hal ini, Kepolisian Daerah Metro Jaya mendesak Pemprov DKI Jakarta menertibkan para tukang tambal ban yang membuka lapak di tepi jalan.

”Keberadaan tukang tambal ini patut diduga ada kaitan dengan ranjau paku. Pemda, terutama wali kota, sebaiknya meninjau keberadaan tukang tambal ban yang melanggar peraturan daerah karena menempati trotoar sebagai lapak,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto.

Ia menjelaskan, penertiban lapak tambal ban ini sekaligus untuk membuktikan keterkaitan dengan para penyebar ranjau paku. ”Kelak akan terlihat setelah tidak ada tambal ban, apakah tetap akan ada ranjau paku,” ujarnya.

Rikwanto menghargai kepedulian beberapa komunitas penyapu ranjau selama ini. Namun, kerja sukarela mereka seperti berlomba dengan para penebar paku. Subuh dibersihkan, sore hari sudah ada lagi ranjau paku.

Rikwanto menambahkan, selama ini polisi kesulitan menjerat penyebar paku dengan sanksi berat. Pasalnya, selama ini tidak ada korban yang melapor sehingga pelaku hanya bisa dijerat dengan tindak pidana ringan.

”Misalnya, kemarin, warga menangkap penyebar paku berinisial BJ yang sudah dua kali tertangkap menyebar ranjau, warga memukuli dan membakar motornya. Tetapi, karena tidak ada laporan korbannya, pelaku hanya bisa dijerat dengan tindak pidana ringan,” ujarnya.

Ia mengimbau agar warga yang merasa menjadi korban ranjau paku melapor sehingga bisa menindak pelaku dengan hukuman lebih berat. ”Kalau ada yang melapor, bisa dijerat dengan perusakan atau pemerasan karena setelah kena paku biasanya diperas saat menambal ban,” kata Rikwanto.

Menurut Agus dari Humas Saber, menindak para penebar ranjau paku itu memang sulit karena tak mudah menemukan penebar paku. Namun, pada tahun 2013, seorang penebar paku di Jakarta Barat ditangkap setelah seorang pengendara motor menjadi korban. Penebar paku itu tak lain adalah penyedia jasa tambal ban di Jalan Daan Mogot. (JOS/RAY/RTS/MDN/RWN)

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

DKI Minta Pusat Perpanjang Waktu Pendataan Pekerja yang Kena PHK dan Dirumahkan

DKI Minta Pusat Perpanjang Waktu Pendataan Pekerja yang Kena PHK dan Dirumahkan

Megapolitan
Pesanan Baju Merosot, Konveksi Rumahan di Jakarta Utara Kebanjiran Pesanan Masker Kain

Pesanan Baju Merosot, Konveksi Rumahan di Jakarta Utara Kebanjiran Pesanan Masker Kain

Megapolitan
Imbas Covid-19, 162.416 Pekerja Lapor Kena PHK dan Dirumahkan

Imbas Covid-19, 162.416 Pekerja Lapor Kena PHK dan Dirumahkan

Megapolitan
Warga Kembangan Pesan Makanan di Warteg untuk Dibagikan Gratis

Warga Kembangan Pesan Makanan di Warteg untuk Dibagikan Gratis

Megapolitan
Akan Tawuran Saat Warga Lain Diam di Rumah, 4 Pemuda Ditangkap

Akan Tawuran Saat Warga Lain Diam di Rumah, 4 Pemuda Ditangkap

Megapolitan
Jalan Sepi Banyak Digunakan Kebut-kebutan, Polisi: Fatalitas Kecelakaan Meningkat

Jalan Sepi Banyak Digunakan Kebut-kebutan, Polisi: Fatalitas Kecelakaan Meningkat

Megapolitan
Truk Sembako Terguling di Jalan Raya Pondok Gede

Truk Sembako Terguling di Jalan Raya Pondok Gede

Megapolitan
Pasar Tanah Abang Beroperasi Lagi Mulai Besok, Buka Pukul 08.00-14.00

Pasar Tanah Abang Beroperasi Lagi Mulai Besok, Buka Pukul 08.00-14.00

Megapolitan
Pedagang Pasar Kemiri Kembangan Utara Diminta Patuhi Imbauan Kurangi Aktivitas

Pedagang Pasar Kemiri Kembangan Utara Diminta Patuhi Imbauan Kurangi Aktivitas

Megapolitan
Mulai 12 April, Penumpang Transjakarta, MRT, LRT Wajib Pakai Masker

Mulai 12 April, Penumpang Transjakarta, MRT, LRT Wajib Pakai Masker

Megapolitan
18 Orang Ditangkap karena Berkerumun Saat Ada Wabah Covid-19

18 Orang Ditangkap karena Berkerumun Saat Ada Wabah Covid-19

Megapolitan
Dampak Covid-19, Sebanyak 139.288 Pekerja di Jakarta Kena PHK dan Dirumahkan

Dampak Covid-19, Sebanyak 139.288 Pekerja di Jakarta Kena PHK dan Dirumahkan

Megapolitan
Abaikan Imbauan Pemerintah, Warga Padati Pasar Kemiri Kembangan Utara

Abaikan Imbauan Pemerintah, Warga Padati Pasar Kemiri Kembangan Utara

Megapolitan
[UPDATE]: Sebaran 1.071 Pasien Positif Covid-19 di 191 Kelurahan Jakarta

[UPDATE]: Sebaran 1.071 Pasien Positif Covid-19 di 191 Kelurahan Jakarta

Megapolitan
Dapat Hak Asimilasi Dampak Covid-19, 130 Warga Binaan Lapas Salemba Bebas

Dapat Hak Asimilasi Dampak Covid-19, 130 Warga Binaan Lapas Salemba Bebas

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X