Tentang Sentot yang Bawa Kabur Transjakarta dan Dugaan Gangguan Jiwa - Kompas.com

Tentang Sentot yang Bawa Kabur Transjakarta dan Dugaan Gangguan Jiwa

Kompas.com - 08/08/2017, 12:03 WIB
Sentot Setiadi (kaos biru) sopir yang melarikan bus BRT Transjakarta saat berada di Mapolres Pekalongan, Jawa Tengah usai menjalani pemeriksaan, Kamis (27/7/2017).Kompas.com/ Ari Himawan Sarono Sentot Setiadi (kaos biru) sopir yang melarikan bus BRT Transjakarta saat berada di Mapolres Pekalongan, Jawa Tengah usai menjalani pemeriksaan, Kamis (27/7/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Sentot Setiadi hanya menangis ketika ditanya alasannya membawa kabur bus Transjakarta dari pul di Ciracas, Jakarta Timur hingga ke Pekalongan, Jawa Tengah. Saat diperiksa polisi, Sentot mengaku membawa bus tersebut karena ingin menjemput anak-anak sekolah.

"Pengin jemput anak sekolah, pakai bus Transjakarta," jawab Sentot sambil menangis.

Sentot adalah sopir Transjakarta milik operator PT Mayasari. Manajer PT Mayasari Bakti Daryono mengatakan, saat melarikan bus pada Selasa (25/7/2017), Sentot masih dalam posisi skorsing karena tindakan indisipliner sejak April 2017.

Sampai saat ini kepolisian belum menemukan motif Sentot membawa kabur bus tersebut. Sentot linglung dan limbung setiap kali ditanya polisi.

Meski demikian, Sentot telah ditetapkan sebagai tersangka kasus pencurian. Dia terbukti membawa kabur bus Transjakarta dengan mengelabui petugas jaga di pul bus.

Sentot tidak menunjukkan surat perintah jalan (SPJ) saat membawa bus keluar dari pul karena mengaku sedang terburu-buru ingin menjemput anak sekolah. Petugas yang berjaga saat itu akhirnya mengizinkan Sentot membawa bus itu keluar.

"Cara bawa lari busnya ya saya bilang buru-buru mau jemput anak sekolah ke sekuriti karena disuruh pemerintah. Terus berhasil keluar," kata Sentot.

Baca: Sentot Hanya Menangis saat Ditanya Alasan Mencuri Bus Transjakarta

Hilangnya bus Transjakarta itu diketahui pada Rabu (26/7/2017) saat dilakukan pengecekan. Belakangan diketahui, Sentot rupanya mematikan OPU (alat sejenis global positioning system-GPS) di dalam mobil agar bus yang dia kemudikan tidak bisa dideteksi keberadaannya.

Dengan bantuan PT Transjakarta, bus itu terdeteksi berada di sekitar Pekalongan. PT Mayasari Bakti langsung menghubungi Polda Jawa Tengah dan Polda Jawa Timur untuk mengejar bus yang dicuri. Hingga akhirnya Sentot ditangkap dan dibawa kembali ke Jakarta.

Dugaan gangguan jiwa

Polisi kemudian membawa Sentot ke RS Polri untuk diperiksa kejiwaannya pada Selasa (1/8/2017) dan Rabu (2/8/2017).

Sentot diduga mengalami gangguan jiwa karena sebelumnya dia juga mengaku mendapat bisikan. Hal itu membuat Sentot tidak sadar membawa bus tersebut hingga ke Pekalongan tanpa membawa uang sepersen pun.

Kapolsek Ciracas, Jakarta Timur, Kompol Tuti Aini mengungkapkan, hingga kini belum diketahui hasil tes kejiwaan Sentot. Ia juga mengaku tidak tahu pasti kapan hasil tes kejiwaan Sentot dikeluarkan pihak rumah sakit.

"Belum keluar (hasil tes kejiwaan)," kata Tuti saat dikonfirmasi Kompas.com, Senin (7/8/2017).

Baca: Bawa Kabur Bus Transjakarta, Sentot Mengaku Dapat Bisikan

Kapolisian juga kesulitan mengetahui riwayat kesehatan Sentot karena belum ada keluarga yang menjenguk. Keluarga Sentot di Kebumen, Jawa Tengah, diketahui sudah meninggal dunia. Sementara itu, Sentot mengaku sudah ditinggal istrinya menikah lagi.

Bila terbukti mengalami gangguan jiwa, polisi akan menghetikan proses hukum tehadap Sentot.

Adapun mengenai dugaan gangguan jiwa yang dialami Sentot, dokter spesialis kedokteran jiwa, Andri, mengatakan seseorang yang jiwanya terganggu memang bisa melakukan sesuatu di luar kendalinya.

"Pada pasien yang mengalami gangguan halusinasi dengar biasanya ditemukan pada pasien skizofrenia. Memang perlu pemeriksaan kejiwaan," kata Andri.

Bisikan bisa berupa melakukan kekerasan hingga melakukan hal yang tidak wajar seperti yang dilakukan Sentot.

Ketua Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia, Bagus Utomo mencontohkan, pernah ada kasus pasien gangguan Bipolar yang mengaku mendapat bisikan untuk berjalan kaki ke luar kota.

Hal senada dikatakan dokter spesialis kedokteran jiwa, Tika Prasetiawati. Menurut Tika, untuk memastikan apakah Sentot benar mengalami gangguan jiwa, perlu pemeriksaan mendalam.

"Yang jelas, seperti itu (mendapat bisikan) gejala psikotik. Kalau gangguannya apa memang perlu pemeriksaan dulu," kata Tika.

Menurut Tika Prasetiawati, belajar dari kasus Sentot, maka diperlukan pemeriksaan sehat jiwa untuk profesi yang melayani masyarakat. Hal ini juga menyangkut keselamatan si pekerja itu sendiri jika diketahui mengalami masalah kejiwaan.

Kompas TV Bang Yos adalah TransJakarta yang beroperasi sejak 15 Januari 2004


EditorIndra Akuntono
Komentar

Terkini Lainnya

Jelang Pilkada Serentak 2018, Perludem Beri Tips Untuk Pemilih

Jelang Pilkada Serentak 2018, Perludem Beri Tips Untuk Pemilih

Nasional
H-3 Pilkada Jateng, Alat Peraga Kampanye Dibersihkan Hingga ke Rumah Warga

H-3 Pilkada Jateng, Alat Peraga Kampanye Dibersihkan Hingga ke Rumah Warga

Regional
Uni Emirat Arab Siap Dukung Penarikan Mundur Pemberontak Yaman

Uni Emirat Arab Siap Dukung Penarikan Mundur Pemberontak Yaman

Internasional
Pemkot Jakbar Cari Lokasi Pengganti Tempat Pembuangan Sampah yang Dikeluhkan Warga

Pemkot Jakbar Cari Lokasi Pengganti Tempat Pembuangan Sampah yang Dikeluhkan Warga

Megapolitan
Tugas Perdana dari Mendagri, Pj Gubernur Sumut Datangi Danau Toba

Tugas Perdana dari Mendagri, Pj Gubernur Sumut Datangi Danau Toba

Regional
KPU NTT Kesulitan Atur Akun Medsos yang Kampanye Saat Masa Tenang

KPU NTT Kesulitan Atur Akun Medsos yang Kampanye Saat Masa Tenang

Regional
Menengok Saluran Air Penuh Sampah di Duren Sawit

Menengok Saluran Air Penuh Sampah di Duren Sawit

Megapolitan
Cerita Korban Terpeleset Cairan Licin Diduga Oli di Pejompongan

Cerita Korban Terpeleset Cairan Licin Diduga Oli di Pejompongan

Megapolitan
415 Pengamat Internasional Terakreditasi Pantau Pemilu Turki

415 Pengamat Internasional Terakreditasi Pantau Pemilu Turki

Internasional
Jika Ada Polisi Tidak Netral di Pilkada Jabar, Laporkan ke Kapolda

Jika Ada Polisi Tidak Netral di Pilkada Jabar, Laporkan ke Kapolda

Regional
Nurdin Halid Ungkap Ada Menteri Intervensi Pilkada Sulsel Sampai Ancam Bupati

Nurdin Halid Ungkap Ada Menteri Intervensi Pilkada Sulsel Sampai Ancam Bupati

Regional
Antisipasi 'Serangan Fajar' di Pilkada Jatim, PDI-P Intruksikan Kadernya Ronda

Antisipasi "Serangan Fajar" di Pilkada Jatim, PDI-P Intruksikan Kadernya Ronda

Nasional
'Baju Kertasku', Saat Kertas Bekas Jadi Berkah Bagi Keluarga Tak Mampu

"Baju Kertasku", Saat Kertas Bekas Jadi Berkah Bagi Keluarga Tak Mampu

Megapolitan
Dorong Pilkada Damai, MUI dan Polda Jabar Gelar Halal Bihalal dan Istigtsah

Dorong Pilkada Damai, MUI dan Polda Jabar Gelar Halal Bihalal dan Istigtsah

Regional
Basarnas akan Menganalisa Temuan Objek di Kedalaman 490 Meter di Danau Toba

Basarnas akan Menganalisa Temuan Objek di Kedalaman 490 Meter di Danau Toba

Regional

Close Ads X