Tempat Pengolahan di Depok Ini Pakai Ulat dan Lalat untuk Urai Sampah Organik

Kompas.com - 21/02/2019, 09:49 WIB
UPS Merdeka 2, Sukmajaya, Depok, Rabu (20/2/2019). KOMPAS. COM/CYNTHIA LOVAUPS Merdeka 2, Sukmajaya, Depok, Rabu (20/2/2019).

DEPOK, KOMPAS.com — Ulat yang mungkin bagi sebagian orang adalah binatang yang tidak berguna dan mengganggu nyatanya bisa mengurangi kadar sampah yang ada di Depok.

Tidak hanya itu, ulat pun punya keuntungan ekonomis.

Adalah ulat maggot atau black soldier fly yang bisa menjadi solusi dari sampah organik yang belum termanfaatkan karena dari masih larva hingga jadi ulat, maggot mengonsumsi sampah organik.

Pemerintah Kota Depok berinovasi menggunakan ulat maggot ini untuk mengurangi sampah di Unit Pengelolaan Sampah (UPS) yang ada di Depok.

Salah satu UPS yang menggunakan metode ini ialah UPS Merdeka 2 di Sukmajaya, Depok.

Baca juga: DKI Targetkan Bisa Tekan Produksi Sampah 20 Persen Sehari

Kepala UPS Merdeka 2 Heriyanto mengatakan, pihaknya akan mengembangkan ulat maggot di Kota Depok.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Kami memanfaatkan warga dari pasar dan sebagian rumah tangga di Depok untuk memilah sampahnya sendiri," ucap Heriyanto di Sukmajaya, Depok, Rabu (20/2/2019).

Pihaknya pun tengah menyosialisasikan pengelolaan sampah dengan ulat maggot ini ke warga-warga Depok.

"Kami telah meminjamkan ember sebagai wadah untuk nantinya masing-masing rumah tangga meletakkan sampah organik tersebut di dalam wadah besar yang sudah kami pinjamkan," ucapnya.

Para warga yang memilah sampahnya sendiri dan memberikannya ke UPS dapat menukarkan karung-karung berisi pupuk secara gratis.

Sampah organik yang telah diolah itu sebenarnya merupakan pupuk yang sangat baik dan dapat dijual.

"Warga yang hendak minta pupuk dapat menukarkannya dengan satu ember besar sampah organik ke UPS," ucapnya.

Adapun fase metamorfosis ulat terdiri atas fase telur yang kemudian berkembang menjadi ulat maggot. 

Baca juga: Jenazah Bayi Ditemukan di Tempat Sampah di Matraman

Ulat maggot ini berkembang menjadi lalat setelah diberi sampah organik. Lalat maggot mampu mengolah puluhan ton sampah organik dalam 15 hari. 

Maggot yang siap panen, lanjut Heriyanto, dapat digunakan untuk pakan ternak, seperti ikan dan unggas.

Maggot juga bisa dimanfaatkan sebagai pestisida alami dengan cara digiling dan diambil cairannya. Bahkan, sisa penguraian sampah oleh maggot menjadi pupuk organik berkualitas tinggi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pukul 9.00 WIB, PN Jaktim Lanjutkan Sidang Murnaman Terkait Terorisme

Pukul 9.00 WIB, PN Jaktim Lanjutkan Sidang Murnaman Terkait Terorisme

Megapolitan
2 Pengeroyok Polisi di Pondok Indah Ditangkap, Pelaku Kakak Adik

2 Pengeroyok Polisi di Pondok Indah Ditangkap, Pelaku Kakak Adik

Megapolitan
Kebakaran di Tambora, Satu Keluarga Tewas

Kebakaran di Tambora, Satu Keluarga Tewas

Megapolitan
Polres Jaksel Tangkap 2 Pengeroyok Polisi di Pondok Indah

Polres Jaksel Tangkap 2 Pengeroyok Polisi di Pondok Indah

Megapolitan
Rabu Subuh, 4 Rumah di Tambora Terbakar

Rabu Subuh, 4 Rumah di Tambora Terbakar

Megapolitan
UPDATE: Tambah 2 Kasus di Kota Tangerang, 14 Pasien Covid-19 Masih Dirawat

UPDATE: Tambah 2 Kasus di Kota Tangerang, 14 Pasien Covid-19 Masih Dirawat

Megapolitan
[POPULER JABODETABEK] Potret Banjir Rob Jakarta | Adu Mulut antara Anggota DPRD DKI dan Direksi PT Transjakarta

[POPULER JABODETABEK] Potret Banjir Rob Jakarta | Adu Mulut antara Anggota DPRD DKI dan Direksi PT Transjakarta

Megapolitan
UPDATE: Tambah 2 Kasus di Tangsel, 39 Pasien Covid-19 Masih Dirawat

UPDATE: Tambah 2 Kasus di Tangsel, 39 Pasien Covid-19 Masih Dirawat

Megapolitan
Hari Ini, 10.000 Buruh Gelar Unjuk Rasa Tagih Janji Anies Naikkan UMP

Hari Ini, 10.000 Buruh Gelar Unjuk Rasa Tagih Janji Anies Naikkan UMP

Megapolitan
Wali Kota Jakut: Tanggul Kawasan Dermaga dan Muara Perlu Ditinggikan

Wali Kota Jakut: Tanggul Kawasan Dermaga dan Muara Perlu Ditinggikan

Megapolitan
KNKT Turun Tangan Setelah 500-an Kecelakaan Bus Transjakarta...

KNKT Turun Tangan Setelah 500-an Kecelakaan Bus Transjakarta...

Megapolitan
Periode Natal dan Tahun Baru 2022, Polres Tangsel Gelar Razia Prokes Covid-10

Periode Natal dan Tahun Baru 2022, Polres Tangsel Gelar Razia Prokes Covid-10

Megapolitan
Mobil Honda HRV Hangus Terbakar di Tol Dalam Kota Slipi

Mobil Honda HRV Hangus Terbakar di Tol Dalam Kota Slipi

Megapolitan
Dua Rumah Terbakar di Tamansari dan Tambora, Diduga akibat Korsleting Listrik

Dua Rumah Terbakar di Tamansari dan Tambora, Diduga akibat Korsleting Listrik

Megapolitan
Duduk Perkara Pebalap Liar Keroyok Polisi di Pondok Indah

Duduk Perkara Pebalap Liar Keroyok Polisi di Pondok Indah

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.