Kapolres Jakpus Tidak Larang Pengemudi Taksi Online Berunjuk Rasa di Balai Kota asal...

Kompas.com - 19/08/2019, 17:41 WIB
Kapolres Jakarta Pusat Kombes Harry Kurniawan di depan gedung Balai Kota, Jakarta Pusat, Senin (19/8/2019) KOMPAS.COM/RYANA ARYADITA UMASUGIKapolres Jakarta Pusat Kombes Harry Kurniawan di depan gedung Balai Kota, Jakarta Pusat, Senin (19/8/2019)

JAKARTA, KOMPAS.com - Kapolres Jakarta Pusat Kombes Harry Kurniawan meminta agar mobil para pengemudi taksi online yang berunjuk rasa di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat tidak memenuhi lajur jalan.

Hal ini disampaikan lantaran pihaknya banyak mendapat aduan dari masyarakat tentang banyaknya mobil yang terparkir di Balai Kota hingga menyebabkan macet.

Apalagi polisi akhirnya ratusan harus mengamankan aksi ini karena jumlah massa yang juga banyak.


Baca juga: Pengemudi Taksi Online Unjuk Rasa di Balai Kota Tuntut Pengecualian Ganjil Genap

"Kalau saya kapolres sudah sering kena macet tetapi saya mendengar aspirasi dari masyarakat pengguna mereka komplain juga, komplainnya sumpah serapah ini polisi kemana? Ternyata polisi ada ratusan disini," kata Harry di depan pengunjuk rasa, Senin (19/8/2019).

Ia menyebut, mobil pengemudi taksi online yang hampir menutupi jalan ini juga terjadi pada pagi hari di depan Taman Pandang, Monas atau depan Istana Negara.

"Sebelumnya kita juga mendampingi bapak ibu sekalian di taman pandang di depan Istana, sempat hampir nutup jalan. Kalau sudah di depan Istana itu nutup jalan pertaruhannya adalah jabatan Kapolres Jakarta Pusat pada saat itu," ucapnya.

Harry mengaku tak melarang adanya unjuk rasa ini, yang penting tidak menghalangi pengendara yang lewat.

Baca juga: Para Pengemudi Taksi Online Tolak Pakai Pelat Kuning untuk Bebas Ganjil Genap

"Saya hadir memberikan support memberikan apa yang diinginkan oleh teman-teman. Cuma tadi saya minta satu saja sama teman-teman, datang dari ujung sana (kantor Duta Besar Amerika) mau masuk ke sini (Balkot) satu jam lebih," tambah Harry.

Sebelumnya, sejumlah pengemudi taksi online berunjuk rasa di depan Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

Mereka mengatasnamakan Gergaji atau gerakan genap ganjil. Para pengemudi ini menuntut agar pengemudi taksi online dikecualikan dalam pembatasan ganjil genap yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

"Pada intinya kami ingin memberikan akses kepada teman-teman yang khususnya bergeliat di transportasi online untuk bisa mengakses masuk dalam zona ganjil genap," ucap adminisator aksi Alifamansyah di lokasi, Senin (19/8/2019).

"Kami tidak menghilangkan ganjil genap perlu dicatat, tapi memberikan akses kepada kita sebagai driver online untuk biasa mengakses ke dalam jalur ganjil genap," imbuhnya.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sekda DKI Pastikan Anggota TGUPP yang Rangkap Jabatan Akan Diberhentikan

Sekda DKI Pastikan Anggota TGUPP yang Rangkap Jabatan Akan Diberhentikan

Megapolitan
Kepada Polisi, Ibu di Kedoya Mengaku Tak Tahu Bayi Berusia 40 Hari Belum Bisa Mencerna Pisang

Kepada Polisi, Ibu di Kedoya Mengaku Tak Tahu Bayi Berusia 40 Hari Belum Bisa Mencerna Pisang

Megapolitan
Warga Kampung Mampangan Depok Temukan Ular Sanca 3 Meter di Bantaran Kali

Warga Kampung Mampangan Depok Temukan Ular Sanca 3 Meter di Bantaran Kali

Megapolitan
Anggaran TGUPP Dipangkas untuk 50 Orang, Fraksi PDI-P Anggap Masih Terlalu Banyak

Anggaran TGUPP Dipangkas untuk 50 Orang, Fraksi PDI-P Anggap Masih Terlalu Banyak

Megapolitan
Pemprov DKI Anggarkan Rp 170 Miliar untuk Revitalisasi Terminal Kampung Rambutan

Pemprov DKI Anggarkan Rp 170 Miliar untuk Revitalisasi Terminal Kampung Rambutan

Megapolitan
Jualan di Bahu Jalan, PKL Senen Merasa Tak Ganggu Lalu Lintas

Jualan di Bahu Jalan, PKL Senen Merasa Tak Ganggu Lalu Lintas

Megapolitan
Bayi Berusia 40 Hari di Kedoya Meninggal karena Tersedak Pisang yang Diberikan Ibunya

Bayi Berusia 40 Hari di Kedoya Meninggal karena Tersedak Pisang yang Diberikan Ibunya

Megapolitan
DPRD DKI Terbelah Soal TGUPP, PDI-P dan PSI Menolak, Gerindra dan PAN Mendukung

DPRD DKI Terbelah Soal TGUPP, PDI-P dan PSI Menolak, Gerindra dan PAN Mendukung

Megapolitan
Diusulkan untuk Gaji 67 Anggota, Anggaran TGUPP Dipangkas Hanya Buat 50 Orang

Diusulkan untuk Gaji 67 Anggota, Anggaran TGUPP Dipangkas Hanya Buat 50 Orang

Megapolitan
PKL Senen Akan Direlokasi, Pemkot Jakpus Diminta Sosialisasi ke Masyarakat

PKL Senen Akan Direlokasi, Pemkot Jakpus Diminta Sosialisasi ke Masyarakat

Megapolitan
Ada Permainan Tradisional Betawi dan Area Outbond di Taman Tomang Rawa Kepa

Ada Permainan Tradisional Betawi dan Area Outbond di Taman Tomang Rawa Kepa

Megapolitan
Perusahaan Patungan PT KAI dan PT MRT Jakarta Bertugas Kelola Kawasan Transit hingga Tiketing

Perusahaan Patungan PT KAI dan PT MRT Jakarta Bertugas Kelola Kawasan Transit hingga Tiketing

Megapolitan
Dishub Sebut Penutupan Lay Bay Stasiun Bekasi oleh PT KAI Tanpa Kajian Matang

Dishub Sebut Penutupan Lay Bay Stasiun Bekasi oleh PT KAI Tanpa Kajian Matang

Megapolitan
Sidang Eksepsi Kasus 'Ikan Asin' Akan Digelar Tahun Depan

Sidang Eksepsi Kasus "Ikan Asin" Akan Digelar Tahun Depan

Megapolitan
Lay Bay Ditutup, Angkot dan Ojol Bakal Dilarang Ngetem di Depan Stasiun Bekasi?

Lay Bay Ditutup, Angkot dan Ojol Bakal Dilarang Ngetem di Depan Stasiun Bekasi?

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X