Kompas.com - 18/05/2020, 14:05 WIB
Ilustrasi mudik dengan MPV SHUTTERSTOCKIlustrasi mudik dengan MPV

"Dengan dilonggarkannya PSBB ini pasti yang akan berpergian itu pasti banyak karena sudah beberapa bulan di rumah pasti bosan dan ingin bertemu saudaranya yang ada di Jabodetabek. Namun efek apa yang akan ditimbulkan dari peristiwa tersebut, saya tidak tahu," tuturnya.

Hal senada diungkapkan oleh Aldo, seorang warga asal Bekasi. Ia menilai pemerintah kurang berkoordinasi dengan pihak-pihak berwajib lainnya.

"Kata Anies tidak boleh, lalu kata Arifin itu dibolehkan untuk Jabodetabek, kok tidak konsisten? Seharusnya kan klo pemerintah sudah bilang tidak boleh ya bawahannya harus nurut dong, kok bisa beda sendiri," kata Aldo.

Meski Bekasi termasuk wilayah yang diperbolehkan untuk bepergian, namun Aldo merasa bahwa keputusan ini tetap dapat membahayakan keselamatan masyarakat.

"Masih rawan sekali untuk mudik. Kalau memang orang yang berusia muda kuat sama virus corona, bagaimana dengan orang-orang dengan usia 45 tahun ke atas? Kan sama saja membahayakan orangtua dan saudara kita sendiri," kata Aldo.

Baca juga: Wali Kota Bekasi Larang Warganya Mudik Lokal ke Kawasan Jabodetabek Saat Lebaran

Aldo turut mengeluhkan tindakan para polisi yang dinilai belum efektif dalam menindak lanjuti warga yang tidak melakukan physical distancing.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Saya sering bolak balik Bekasi-Kerawang-Tangerang, tapi polisi kadang hanya nongkrong, tidak ada pemeriksaan," ungkapnya.

Sementara itu, Fiqri, warga asal Bogor, menyarankan agar masyarakat dapat lebih bijak dalam mencerna pergub tersebut. Ia pun mengatakan bahwa masyarakat harus menilai kondisi di perjalanan serta kondisi saudara yang ingin dikunjungi.

"Misalkan saya mau silaturahmi ke keluarga, mereka bukan PDP atau ODP atau yang memiliki gejala-gejala Covid-19, ya tidak masalah. Beda hal dengan keluarga PDP atau ODP ya jangan dikunjungi," kata Fiqri.

Meski terkesan bijak, namun Fiqri mengatakan saat ini pergub tersebut belum mampu mengatur masyarakat secara penuh. Ia menilai sebagian masyarakat sudah tidak peduli dengan anjuran berdiam diri di rumah.

"Peraturannya bijak, tapi orang sekarang lebih ke arah terserah. Faktanya banyak orang yang sudah tidak di rumah saja alias sering bepergian, saya juga begitu meski tetap menggunakan masker dan social distancing," ujar Fiqri.

Halaman:


Video Rekomendasi

Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mayat Seorang Pria Ditemukan Mengapung di Bendungan ATR Bekasi

Mayat Seorang Pria Ditemukan Mengapung di Bendungan ATR Bekasi

Megapolitan
Viral, Video Anak Kecil Curi Uang dari Kotak Amal di Kalideres

Viral, Video Anak Kecil Curi Uang dari Kotak Amal di Kalideres

Megapolitan
Update 27 Juli: Kabupaten Bekasi Catat 285 Kasus Baru Covid-19

Update 27 Juli: Kabupaten Bekasi Catat 285 Kasus Baru Covid-19

Megapolitan
Sepekan Terakhir, 78.236 KK di Kota Tangerang Terima BST dari Kemensos

Sepekan Terakhir, 78.236 KK di Kota Tangerang Terima BST dari Kemensos

Megapolitan
Pendaftaran Penerima Dana Gerakan 'Bagi Rata' Akan Dibuka Lagi Senin Depan

Pendaftaran Penerima Dana Gerakan 'Bagi Rata' Akan Dibuka Lagi Senin Depan

Megapolitan
Polisi Temukan Benda yang Dipakai Dalam Pembunuhan di Jagakarsa

Polisi Temukan Benda yang Dipakai Dalam Pembunuhan di Jagakarsa

Megapolitan
Polisi Akan Periksa Hotel RedDoorz Setelah Digerebek Terkait Kerumunan

Polisi Akan Periksa Hotel RedDoorz Setelah Digerebek Terkait Kerumunan

Megapolitan
Wagub DKI: Soal Waktu Makan Maksimal 20 Menit, Tak Mungkin Kami Tempatkan Petugas di Warteg

Wagub DKI: Soal Waktu Makan Maksimal 20 Menit, Tak Mungkin Kami Tempatkan Petugas di Warteg

Megapolitan
Seorang Suami Diduga Bunuh Istrinya di Jagakarsa, Jakarta Selatan

Seorang Suami Diduga Bunuh Istrinya di Jagakarsa, Jakarta Selatan

Megapolitan
Ombudsman Kritik Penerapan PPKM Level 4 di Kota Tangerang, 2 Posko Penyekatan Kosong Tanpa Polisi

Ombudsman Kritik Penerapan PPKM Level 4 di Kota Tangerang, 2 Posko Penyekatan Kosong Tanpa Polisi

Megapolitan
Polisi Tangkap 2 Pemalsu Surat Hasil Tes Swab PCR di Jakarta Selatan

Polisi Tangkap 2 Pemalsu Surat Hasil Tes Swab PCR di Jakarta Selatan

Megapolitan
Tangsel Catat 7.323 Pasien Covid-19 Masih Dirawat, Terbanyak Selama Pandemi

Tangsel Catat 7.323 Pasien Covid-19 Masih Dirawat, Terbanyak Selama Pandemi

Megapolitan
7 Perusahaan di Jakbar Ditutup karena Wajibkan Karyawan Masuk Kantor padahal Bukan Sektor Esensial

7 Perusahaan di Jakbar Ditutup karena Wajibkan Karyawan Masuk Kantor padahal Bukan Sektor Esensial

Megapolitan
Anies Optimistis Jakarta Lampaui Target Vaksinasi Covid-19 yang Ditetapkan Jokowi

Anies Optimistis Jakarta Lampaui Target Vaksinasi Covid-19 yang Ditetapkan Jokowi

Megapolitan
Mendagri Minta Wali Kota Tangsel Segara Pahami Penanggulangan Covid-19

Mendagri Minta Wali Kota Tangsel Segara Pahami Penanggulangan Covid-19

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X