Kompas.com - 05/12/2020, 06:27 WIB
Debat kandidat Pilkada Depok, Senin (30/11/2020). Tangkapan layar YouTube Kompas TVDebat kandidat Pilkada Depok, Senin (30/11/2020).

DEPOK, KOMPAS.com - Rangkaian debat publik kandidat Pilkada Depok 2020 berakhir semalam, Jumat (4/12/2020).

Debat pamungkas ini diwarnai saling serang secara frontal antara kubu nomor urut 1 Pradi Supriatna-Afifah Alia dengan kubu nomor urut 2 Mohammad Idris-Imam Budi Hartono.

Pertarungan ditambah menarik menilik latar belakang kedua calon wali kota yang sama-sama petahana.

Idris merupakan wali kota saat ini, sedangkan Pradi wakilnya.

Baca juga: Debat Pilkada Depok, Imam dan Pradi Malah Saling Tuduh soal Singkatan

Di posisi wakil, Imam datang dengan rekam jejak legislator kawakan dengan pengalaman 20 tahun di DPRD Kota Depok dan Jawa Barat, sedangkan Afifah merupakan kader PDI-P pendatang baru dalam kancah politik Depok.

Berikut Kompas.com merangkum 3 momen seru saling serang antara kedua kubu dalam debat kemarin:

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

1. Pradi sebut banyak lembaga dikuasai kubu Idris selama ini

Pradi menyerang Idris ketika debat berlangsung seputar isu kebudayaan.

Ia menilai, kurang maksimalnya kegiatan budaya disebabkan lantaran Idris tidak memberikan pekerjaan mengelola kebudayaan kepada orang yang tepat.

"Kami punya catatan terkait itu dan memang ada satu yang memang harusnya menjadi ketua dewan budaya Kota Depok tapi tidak diberikan rekomendasi oleh wali kota kemarin (Idris)," ungkap Pradi tanpa menyebut nama.

Giliran Idris menjawab, ia langsung membantah bahkan memberikan sedikit ralat kepada kompatriotnya itu.

Baca juga: Debat Pilkada Depok, Pradi: Lembaga Banyak Dikuasai Kelompok Pak Idris

"Saya tegaskan dan saya ralat sedikit tidak ada dan belum ada dewan kebudayaan di Kota Depok. Yang ada adalah dewan kesenian Kota Depok," kata Idris.

"Tuntuan ketua dewan kesenian itu memang pertimbangan kami, jangan sampai ini didominasi oleh fungsionaris partai politik, agar lebih netral agar lebih pluralis dalam menanggapi hal seperti ini," ujarnya, juga tanpa menyebut nama.

Pradi sontak balik menyerang.

"Saya pikir proses itu sudah benar, namun nampaknya bisa dilihat dari berbagai lembaga yang ada, terus terang saya mengatakan, banyak dikuasai oleh kelompok Pak Idris. Dan ini saya pikir kurang tepat untuk ke depan," tuding Pradi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Rekomendasi

Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kapal Nelayan Terbakar di Pelabuhan Muara Baru, Jakarta Utara

Kapal Nelayan Terbakar di Pelabuhan Muara Baru, Jakarta Utara

Megapolitan
Temukan Pungli Saat Sidak Penyaluran Bansos Tunai, Mensos Risma Bujuk Korban Bocorkan Nama Oknumnya

Temukan Pungli Saat Sidak Penyaluran Bansos Tunai, Mensos Risma Bujuk Korban Bocorkan Nama Oknumnya

Megapolitan
Remaja Perempuan Dianiaya Ayah Kandung dan Ibu Tiri di Pamulang, Keluarga Lapor Polisi

Remaja Perempuan Dianiaya Ayah Kandung dan Ibu Tiri di Pamulang, Keluarga Lapor Polisi

Megapolitan
Kota Bogor Berlakukan Parkir Ganjil Genap, Ini Aturannya

Kota Bogor Berlakukan Parkir Ganjil Genap, Ini Aturannya

Megapolitan
Penganiaya Tetangga hingga Tewas Sering Protes ke Ketua RT Gara-gara Kotoran Anjing

Penganiaya Tetangga hingga Tewas Sering Protes ke Ketua RT Gara-gara Kotoran Anjing

Megapolitan
SIM Hilang atau Rusak, Begini Mekanisme dan Syarat Mengurusnya

SIM Hilang atau Rusak, Begini Mekanisme dan Syarat Mengurusnya

Megapolitan
Pengusaha Warung Makan Tak Enak Hati Beri Batas Waktu 20 Menit kepada Pelanggan

Pengusaha Warung Makan Tak Enak Hati Beri Batas Waktu 20 Menit kepada Pelanggan

Megapolitan
Kasus Kotoran Anjing di Cengkareng, Pemukul Tetangga Sudah Berstatus Tersangka dan Ditahan

Kasus Kotoran Anjing di Cengkareng, Pemukul Tetangga Sudah Berstatus Tersangka dan Ditahan

Megapolitan
Satpol PP Jakpus Awasi Aturan Makan 20 Menit Sambil Bagikan Sembako ke Pedagang

Satpol PP Jakpus Awasi Aturan Makan 20 Menit Sambil Bagikan Sembako ke Pedagang

Megapolitan
Jadi Lokasi Pesta Ulang Tahun Seleb TikTok Saat PPKM Level 4, Hotel di Bekasi Diberi Peringatan

Jadi Lokasi Pesta Ulang Tahun Seleb TikTok Saat PPKM Level 4, Hotel di Bekasi Diberi Peringatan

Megapolitan
Ombudsman Kritik 2 Pos Penyekatan di Kota Tangerang Tanpa Penjaga, Kapolres: Petugas Butuh Istirahat

Ombudsman Kritik 2 Pos Penyekatan di Kota Tangerang Tanpa Penjaga, Kapolres: Petugas Butuh Istirahat

Megapolitan
976 Warga Kelurahan Semper Timur Sudah Terima Bansos Tunai Kemensos

976 Warga Kelurahan Semper Timur Sudah Terima Bansos Tunai Kemensos

Megapolitan
Polda Metro Luncurkan Vaksinasi Merdeka, Digelar 1-17 Agustus di 900 RW Jakarta

Polda Metro Luncurkan Vaksinasi Merdeka, Digelar 1-17 Agustus di 900 RW Jakarta

Megapolitan
Dilema Menerapkan Aturan Makan 20 Menit, Antara Melanggar atau Kehilangan Pendapatan

Dilema Menerapkan Aturan Makan 20 Menit, Antara Melanggar atau Kehilangan Pendapatan

Megapolitan
114.608 Kendaraan Diputar Balik di Pos Penyekatan Jakarta Timur

114.608 Kendaraan Diputar Balik di Pos Penyekatan Jakarta Timur

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X