Memosisikan Diri sebagai "Manusia Tanpa Mesin" di Kota "Car-Oriented"

Kompas.com - 23/05/2021, 13:13 WIB
Pemandangan Simpang Susun Tol Desari dari atas JPO SDN Cilandak Barat 15 Pagi, Jakarta Selatan. Disadari atau tidak, keberadaan ruas tol perkotaan membuat aktivitas berjalan kaki menjadi kurang nyaman, bahkan untuk menempuh dua lokasi yang sebenarnya sangat berdekatan. Kompas.com/Alsadad RudiPemandangan Simpang Susun Tol Desari dari atas JPO SDN Cilandak Barat 15 Pagi, Jakarta Selatan. Disadari atau tidak, keberadaan ruas tol perkotaan membuat aktivitas berjalan kaki menjadi kurang nyaman, bahkan untuk menempuh dua lokasi yang sebenarnya sangat berdekatan.
Penulis Alsadad Rudi
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Pada 3 Mei 2021, Co-Founder Transport for Jakarta Adriansyah Yasin Sulaeman menulis sebuah kicauan di akun Twitter-nya yang dilihat aneh oleh sebagian orang.

Isi twitnya seperti ini:

"Jakarta: surga bagi foto drone dan mobil, neraka bagi manusia. Ketika kota kita dibentuk hanya untuk terlihat ‘cakep’ dari shot drone, beginilah hasilnya. Coba kita ambil sudut pandang manusia dari foto ini, mau nyebrang jalan saja butuh perjuangan mematikan," demikian kicauan yang ditulis melalui akun Twitter-nya, @adriansyahyasin.

Dalam kicauan tersebut, Yasin mengunggah empat foto yang masing-masing menampilkan Simpang Susun Semanggi, Simpang Susun Tol Desari, Flyover Pancoran-Tendean, dan Flyover Kemayoran.

Kicauan Yasin tersebut memunculkan kebingungan bagi sebagian orang.

Ada yang mempertanyakan alasan harus menyeberang di ruas Tol JORR dan Tol Dalam Kota yang jelas-jelas dilarang dan sangat berbahaya.

Orang yang mungkin sangat jarang berjalan kaki dan beraktivitas dengan transportasi umum mungkin akan gagal paham dengan kicauan Yasin.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun, tidak demikian dengan mereka yang rutin harus berjalan kaki dan menggunakan transportasi umum.

Kicauan Yasin sebenarnya bukan mengajak orang untuk menyeberang di tol.

Tetapi, Yasin mencoba menggambarkan situasi yang sering dihadapi orang-orang yang bukan pengguna kendaraan bermotor.

Mungkin kita sudah terlalu sering mendengar keluhan mengenai betapa tidak menyenangkannya berjalan kaki di Jakarta, atau Jabodetabek secara umum jika kita ingin mengambil ruang lingkup yang lebih luas.

Pada Agustus 2017, The New York Times pernah menulis sebuah artikel berjudul "Jakarta, the City Where Nobody Wants to Walk", sebuah gambaran betapa buruknya nasib pejalan kaki di Ibu Kota.

Dari trotoar rusak, trotoar yang terlalu banyak tiang listrik, trotoar yang diokupasi oleh pedagang kaki lima (PKL), tukang ojek, dan parkir liar, hingga trotoar yang dibajak pengguna sepeda motor adalah sederet penyebab yang mungkin membuat kita malas untuk berjalan kaki di Jakarta.

Namun, pernahkah kita sadar jika ada faktor lain yang lebih penting, yakni kebijakan otoritas terkait dan diperparah dengan rancang kota yang salah.

Disadari atau tidak, kebijakan otoritas terkait rancang kota Jakarta sudah sejak lama terlalu mengakomodasi pengguna kendaraan bermotor pribadi ketimbang para manusia yang tidak mengandalkan kendaraan bermesin, seperti pejalan kaki, pesepeda, pengguna transportasi umum, atau bahkan pedagang gerobak keliling.

"Bertahun-tahun paradigma mobilitas kita dicekoki dengan konsep car-oriented development membuat infrastruktur perkotaan didominasi untuk penggunaan motor dan mobil," tulis Yasin dalam sebuah kicauan lainnya.

Baca juga: Tak Ada Masalah Prinsip, Tol Layang JORR Bisa Segera Dibangun

Sebagai seseorang yang pernah hidup di Belanda, Yasin tentunya bisa membandingkan posisi sebagai pejalan kaki di Jakarta dengan kota-kota di negara maju.

Di kota-kota di banyak negara maju, misalnya di Eropa ataupun di Jepang, mobilitas pejalan kaki dibuat senyaman mungkin.

Untuk sekadar menyeberang mereka tak perlu harus bersusah payah naik turun tangga jembatan penyeberangan orang (JPO), tapi pengguna kendaraan bermotor yang harus menghentikan sejenak laju kendaraannya untuk memberikan kesempatan pejalan kaki melintas.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by London City Town, UK ???????? (@upthelondon)

Kisah pejalan kaki di Jalan TB Simatupang

Pada suatu siang di akhir 2019, Coki berencana ingin istirahat makan siang di Cilandak Town Square.

Lokasi kantornya ada di Menara 165 yang letaknya relatif tidak jauh dari Citos, nama keren Cilandak Town Square.

Baik Citos maupun Menara 165 sama-sama berlokasi di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan.

Jarak kedua tempat tersebut kurang lebih hanya sekitar 1 kilometer. Relatif dekat sebenarnya bagi Coki jika ingin berjalan kaki.

Namun, keinginannya untuk berjalan kaki ke Citos tak bisa dilakukan karena tak ada akses pejalan kaki yang nyaman sebagai penghubung kedua lokasi tersebut.

Penampakan Menara 165 dari atas JPO yang lokasinya di sekitar depan Citos. Terlihat kedua lokasi tersebut terbelah oleh keberadaan Simpang Susun Tol Desari. Ketiadaan akses pedestrian yang nyaman membuat berjalan kaki dari Menara 165 ke Citos terasa lebih lama dan kurang efisien ketimbang menggunakan kendaraan bermotor.Kompas.com/Alsadad Rudi Penampakan Menara 165 dari atas JPO yang lokasinya di sekitar depan Citos. Terlihat kedua lokasi tersebut terbelah oleh keberadaan Simpang Susun Tol Desari. Ketiadaan akses pedestrian yang nyaman membuat berjalan kaki dari Menara 165 ke Citos terasa lebih lama dan kurang efisien ketimbang menggunakan kendaraan bermotor.

Alhasil, Coki harus memanggil ojek daring untuk perjalanan yang jaraknya sebenarnya sangatlah dekat itu.

Coki pernah mencoba untuk berjalan kaki dari Menara 165 ke Citos. Tapi ia harus melakukannnya dengan perjuangan yang sangat melelahkan dan sangat tidak efisien dibanding naik kendaraan bermotor.

"Harus muter jauh sekali. Belok kanan dulu (ke Jalan Antasari) terus naik jembatan penyeberangan terus lewat jalan kampung, muter lagi," kata Coki pada suatu ketika kepada Kompas.com.

Atas: Penampakan kondisi trotoar di depan Menara 165. 
Bawah: Penampakan kondisi trotoar di depan Citos. 

Menara 165 dan Citos adalah dua lokasi yang berdekatan. Tapi ketiadaan akses pedestrian yang nyaman membuat berjalan kaki terasa lebih lama dan kurang efisien ketimbang menggunakan kendaraan bermotor.Kompas.com/Alsadad Rudi Atas: Penampakan kondisi trotoar di depan Menara 165. Bawah: Penampakan kondisi trotoar di depan Citos. Menara 165 dan Citos adalah dua lokasi yang berdekatan. Tapi ketiadaan akses pedestrian yang nyaman membuat berjalan kaki terasa lebih lama dan kurang efisien ketimbang menggunakan kendaraan bermotor.

Penasaran dengan cerita Coki, Kompas.com mencoba untuk melakukan hal yang sama.

Ternyata benar, kendati jaraknya dekat, berjalan kaki dari Menara 165 ke Citos benar-benar sangat melelahkan.

Pertama-tama, kita harus melalui trotoar yang kondisinya tak terlalu baik dan relatif sempit dari depan Menara 165 hingga ke depan Gedung Ratu Prabu 2.

Setelah melewati Gedung Ratu Prabu 2, kita akan mendapati trotoar dengan lebar hanya sekitar satu meter di pinggir lahan kosong yang masih berupa rawa-rawa.

Trotoar di pinggir lahan kosong yang harus dilintasi cukup panjang. Mungkin ada sekitar 1 kilometer, tepatnya di sepanjang pinggir tikungan ruas lalu lintas kendaraan dari Antasari yang hendak mengarah ke Ranco.

Kondisi trotoar yang harus dilalui jika ingin berjalan kaki dari Menara 165 ke Citos. Menara 165 dan Citos adalah dua tempat yang lokasinya berdekatan dan masih satu deretan di jalan yang sama. Namun, ketiadaaan akses pejalan kaki yang nyaman, diperparah dengan adanya Simpang Susun Tol Desari, telah membuat aktivitas berjalan kaki jadi terasa tak nyaman dan kurang efisien dibanding naik kendaraan bermotor.Kompas.com/Alsadad Rudi Kondisi trotoar yang harus dilalui jika ingin berjalan kaki dari Menara 165 ke Citos. Menara 165 dan Citos adalah dua tempat yang lokasinya berdekatan dan masih satu deretan di jalan yang sama. Namun, ketiadaaan akses pejalan kaki yang nyaman, diperparah dengan adanya Simpang Susun Tol Desari, telah membuat aktivitas berjalan kaki jadi terasa tak nyaman dan kurang efisien dibanding naik kendaraan bermotor.

Karena di pinggir lahan kosong, ada rasa waswas saat melintasi trotoar. Suasananya tentu berbeda dengan trotoar di depan gedung aktif yang biasa rutin dijaga petugas keamanan.

Di trotoar pinggir lahan kosong, kita tentu tak bisa berbuat banyak jika ada pelaku kejahatan bermotor yang tiba-tiba datang merampok.

Kembali ke soal perjalanan berjalan kaki dari Menara 165 ke Citos, setelah berjalan sekitar 1 kilometer barulah kita akan menemukan sebuah JPO di depan SDN Cilandak Barat 15 Pagi.

JPO terpantau memiliki 35 anak tangga di kedua sisi dan panjangnya mencapai sekitar 20 meter.

JPO di depan SDN Cilandak Barat 15 Pagi. JPO ini harus dilalui dalam rute berjalan kaki dari Menara 165 ke Citos.Kompas.com/Alsadad Rudi JPO di depan SDN Cilandak Barat 15 Pagi. JPO ini harus dilalui dalam rute berjalan kaki dari Menara 165 ke Citos.

Dari JPO, perjalanan dilanjutkan dengan melintasi trotoar hingga depan Alamanda Tower.

Setelah melewati Alamanda Tower barulah kita menemukan kembali trotoar di depan gedung-gedung aktif hingga akhirnya sampai di Citos.

Dari percobaan yang dilakukan Kompas.com, berjalan kaki dari Menara 165 ke Citos memakan waktu hampir 30 menit untuk jarak hampir dua kilometer.

Di sisi lain, jika menggunakan sepeda motor melewati perempatan Fatmawati, waktu yang dihabiskan hanya sekitar lima menit jika tidak macet.

Kondisi trotoar yang harus dilalui jika kita ingin berjalan kaki dari Menara 165 ke Citos. Menara 165 dan Citos adalah dua lokasi yang berdekatan. Tapi ketiadaan akses pedestrian yang nyaman membuat berjalan kaki terasa lebih lama dan kurang efisien ketimbang menggunakan kendaraan bermotor.Kompas.com/Alsadad Rudi Kondisi trotoar yang harus dilalui jika kita ingin berjalan kaki dari Menara 165 ke Citos. Menara 165 dan Citos adalah dua lokasi yang berdekatan. Tapi ketiadaan akses pedestrian yang nyaman membuat berjalan kaki terasa lebih lama dan kurang efisien ketimbang menggunakan kendaraan bermotor.

Tak hanya dari Menara 165, tak efisiensinya berjalan kaki juga terjadi jika kita ingin menyeberang ke deretan gedung-gedung yang ada di seberang Citos, misalnya ke toko buah dan sayur All Fresh.

Baik Citos dan All Fresh adalah dua gedung yang saling berhadapan. Namun, terpisah oleh ruas Tol JORR.

Dari percobaan yang dilakukan Kompas.com, sekadar berjalan kaki dari Citos ke All Fresh bahkan bisa menghabiskan waktu 15-20 menit karena harus memutar melewati JPO depan Midtown Residence

JPO memiliki panjang hampir 50 meter dan memiliki 53 anak tangga di kedua sisi.

Sementara itu, jika naik sepeda motor hanya perlu tiga menit via putaran balik depan sekolah High Scope.

Lingkaran merah sebelah kiri: Citos. 
Lingkaran merah sebelah kanan: All Fresh.   

Baik Citos dan All Fresh adalah dua gedung yang saling berhadapan. Namun, terpisah oleh ruas tol JORR. Kondisi tersebut membuat kedua lokasi tersebut tak bisa terhubung penyeberangan langsung dalam bentuk pelican crossing ataupun zebra cross.Kompas.com/Alsadad Rudi Lingkaran merah sebelah kiri: Citos. Lingkaran merah sebelah kanan: All Fresh. Baik Citos dan All Fresh adalah dua gedung yang saling berhadapan. Namun, terpisah oleh ruas tol JORR. Kondisi tersebut membuat kedua lokasi tersebut tak bisa terhubung penyeberangan langsung dalam bentuk pelican crossing ataupun zebra cross.

Kisah pejalan kaki di Jalan Gatot Subroto

Jalan TB Simatupang mungkin hanya satu dari sekian banyak ruas jalan di Jakarta yang sangat tidak ramah untuk pejalan kaki.

Kasus seperti di Jalan TB Simatupang mungkin juga banyak ditemukan di Jalan Gatot Subroto, salah satunya seperti yang pernah dialami Sinta.

Pada suatu ketika, Sinta pernah harus memesan taksi hanya gara-gara tak bisa menemukan tempat menyeberang yang nyaman dan cepat setelah turun dari bus transjakarta di ruas Jalan Gatot Subroto arah Semanggi, tepatnya di halte depan Museum Satriamandala.

Saat itu, ia ada urusan ke salah satu kantor yang berlokasi di Centennial Tower.

Museum Satriamandala dan Centennial Tower adalah dua lokasi di Jalan Gatot Subroto yang saling berhadapan tapi terpisah oleh Tol Dalam Kota.

Atas: Halte depan Museum Satriamandala. 
Bawah: Centennial Tower.   

Museum Satriamandala dan Centennial Tower adalah dua lokasi di Jalan Gatot Subroto yang saling berhadapan tapi terpisah oleh Tol Dalam Kota. Adanya ruas tol membuat dua lokasi yang jaraknya sangat berdekatan ini tak bisa terhubung oleh penyeberangan langsung untuk pejalan kaki.Kompas.com/Alsadad Rudi Atas: Halte depan Museum Satriamandala. Bawah: Centennial Tower. Museum Satriamandala dan Centennial Tower adalah dua lokasi di Jalan Gatot Subroto yang saling berhadapan tapi terpisah oleh Tol Dalam Kota. Adanya ruas tol membuat dua lokasi yang jaraknya sangat berdekatan ini tak bisa terhubung oleh penyeberangan langsung untuk pejalan kaki.

Keberadaan Tol Dalam Kota tentunya tak memungkinkan penyeberangan langsung dalam bentuk pelican crossing ataupun zebra cross.

Selain tak memungkinkan adanya penyeberangan langsung, Halte Museum Satriamandala juga relatif jauh dari JPO terdekat.

Halaman:


Video Rekomendasi

Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sulit Dapat Vaksin Dosis Kedua? Bisa Daftar lewat JAKI

Sulit Dapat Vaksin Dosis Kedua? Bisa Daftar lewat JAKI

Megapolitan
Diduga Hendak Ikut Aksi 'Jokowi End Game', Sejumlah Warga Diamankan Polisi

Diduga Hendak Ikut Aksi "Jokowi End Game", Sejumlah Warga Diamankan Polisi

Megapolitan
Dua Peristiwa Pesawat Terbang Rendah dan Sebabkan Suara Bising di Langit Tangerang

Dua Peristiwa Pesawat Terbang Rendah dan Sebabkan Suara Bising di Langit Tangerang

Megapolitan
77 Perusahaan di Jakarta Ditutup karena Langgar Aturan PPKM Darurat

77 Perusahaan di Jakarta Ditutup karena Langgar Aturan PPKM Darurat

Megapolitan
Jokowi Kesulitan Cari Obat Covid-19, Bima Arya: Dinkes Mau Beli Barangnya Enggak Ada

Jokowi Kesulitan Cari Obat Covid-19, Bima Arya: Dinkes Mau Beli Barangnya Enggak Ada

Megapolitan
Vaksinasi Massal Covid-19 di JCC 24-26 Juli, Simak Cara Daftarnya

Vaksinasi Massal Covid-19 di JCC 24-26 Juli, Simak Cara Daftarnya

Megapolitan
Ada Seruan Aksi 'Jokowi End Game', Tak Ada Penyekatan Tambahan di Jakarta

Ada Seruan Aksi "Jokowi End Game", Tak Ada Penyekatan Tambahan di Jakarta

Megapolitan
Pemalakan Sopir Truk Kembali Muncul, Sebulan Setelah Instruksi Jokowi Berantas Pungli

Pemalakan Sopir Truk Kembali Muncul, Sebulan Setelah Instruksi Jokowi Berantas Pungli

Megapolitan
Saat Jokowi Kesulitan Cari Obat Covid-19 di Kota Bogor...

Saat Jokowi Kesulitan Cari Obat Covid-19 di Kota Bogor...

Megapolitan
Sulit Dapat Akses, WNA Pertanyakan Kesetaraan Memperoleh Vaksin di Jakarta

Sulit Dapat Akses, WNA Pertanyakan Kesetaraan Memperoleh Vaksin di Jakarta

Megapolitan
Daftar Lokasi Vaksinasi Covid-19 untuk Anak 12-17 Tahun di Depok Periode Juli

Daftar Lokasi Vaksinasi Covid-19 untuk Anak 12-17 Tahun di Depok Periode Juli

Megapolitan
Warga Kesulitan Cari Oksigen, Yayasan RHC Suplai 100 Tabung Gratis

Warga Kesulitan Cari Oksigen, Yayasan RHC Suplai 100 Tabung Gratis

Megapolitan
Heboh soal Pesawat Terbang Rendah Bolak-balik di Langit Tangerang, Ini Penjelasan Airnav

Heboh soal Pesawat Terbang Rendah Bolak-balik di Langit Tangerang, Ini Penjelasan Airnav

Megapolitan
Curhat WNA Kesulitan Dapatkan Vaksin Covid-19 di Jakarta

Curhat WNA Kesulitan Dapatkan Vaksin Covid-19 di Jakarta

Megapolitan
Kasus Korupsi Dana BOS SMKN 53 Jakarta, Pihak Swasta Bantu Buat SPJ Fiktif

Kasus Korupsi Dana BOS SMKN 53 Jakarta, Pihak Swasta Bantu Buat SPJ Fiktif

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X