Kompas.com - 18/06/2021, 09:50 WIB
Guru SDN Kenari 07 Pagi menyemprotkan cairan disinfektan ke sepatu seorang murid sebelum memasuki ruang kelas untuk mengikuti uji coba pembelajaran tatap muka tahap dua di SD Negeri Kenari 07-08 Pagi, Jakarta, Rabu (9/6/2021). Pemprov DKI Jakarta melakukan uji coba pembelajaran tatap muka tahap dua di 226 sekolah dari jenjang SD hingga SMA mulai 9-26 Juni 2021 dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/foc. ANTARA FOTO/Aprillio AkbarGuru SDN Kenari 07 Pagi menyemprotkan cairan disinfektan ke sepatu seorang murid sebelum memasuki ruang kelas untuk mengikuti uji coba pembelajaran tatap muka tahap dua di SD Negeri Kenari 07-08 Pagi, Jakarta, Rabu (9/6/2021). Pemprov DKI Jakarta melakukan uji coba pembelajaran tatap muka tahap dua di 226 sekolah dari jenjang SD hingga SMA mulai 9-26 Juni 2021 dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/foc.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan, pada Kamis (17/6/2021), untuk menghentikan sementara proses uji coba sekolah tatap muka lantaran kasus Covid-19 yang semakin meningkat.

Keadaan ini disambut berbeda oleh para wali murid. Sebagian beranggapan keputusan ini yang terbaik, namun sebagian juga masih mengharapkan sekolah tatap muka tetap akan terlaksana.

Seperti halnya AM, wali murid kelas 2 SMP di Kramat Jati. Ia mengaku sangat khawatir karena anak-anak sulit dijaga untuk taati protokol kesehatan.

"Karena anak-anak enggak bisa dijaga biar selalu taat prokes. Yang sudah tua saja susah disuruh prokes pas kumpul-kumpul, apalagi anak-anak. Jadi bahaya membiarkan anak-anak kumpul-kumpul di kelas, " ungkap AM.

Baca juga: Kasus Covid-19 Melonjak, Uji Coba Belajar Tatap Muka di Jakarta Dihentikan

Hal serupa juga disepakati LY yang dengan tegas mengingingkan anaknya belajar di rumah.

"Maunya anak di rumah, karena khawatir banget. Enggak masalah biarpun sesekali kesulitan ajarin anak, " kata LY, warga Cempaka Putih.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Lebih lanjut, LY mengaku sudah terbiasa dengan mengajarkan anak di rumah. Ia bahkan sudah memiliki pola mengajar yang tepat untuk anaknya.

"Aku menurunkan standar cara belajar anak. Cukup berusaha jadi teman buat anak-anak aja sih. Kadang serius kadang santai. Selain itu, kalau di rumah anaknya juga lebih mandiri, belajar sendiri. Dia nanya kalau ada yang enggak dipaham saja, " lanjut dia.

Baca juga: Virus Corona Varian Delta Dikhawatirkan Lebih Mudah Menyerang Anak-anak

Berbeda dengan keduanya, SF, wali murid kelas 2 SD di Cakung, mengaku meski merasa khawatir anak bersekolah tatap muka, tapi ia berharap sekolah bisa dilakukan dengan kombinasi luring dan daring.

"Karena anak-anak masih butuh interaksi dengan teman sebaya dan guru-gurunya. Kalau bisa kombinasi, mungkin seminggu 1-2 kali ke sekolah. Tapi tetap dengan protokol kesehatan ya," ujar SF.

Hal serupa juga disampaikan KW, wali murid kelas 3 SD di Jakarta Selatan. Ia mengaku khawatir, namun tetap setuju dengan sekolah tatap muka.

Baca juga: Covid-19 di Jakarta Meledak Lagi, Ada 4.144 Kasus Baru Hari Ini, Kedua Tertinggi sejak Pandemi

Halaman:


Video Rekomendasi

Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemohon SKCK di Kota Tangerang Wajib Bawa Surat Vaksinasi, Ombudsman Bilang Itu Berpotensi Timbulkan Malaadministrasi

Pemohon SKCK di Kota Tangerang Wajib Bawa Surat Vaksinasi, Ombudsman Bilang Itu Berpotensi Timbulkan Malaadministrasi

Megapolitan
NIK Warga Jakarta Diduga Dipakai Seseorang untuk Vaksin di Tangsel, Polisi Periksa Klinik di Serpong

NIK Warga Jakarta Diduga Dipakai Seseorang untuk Vaksin di Tangsel, Polisi Periksa Klinik di Serpong

Megapolitan
Polisi Usut Dugaan NIK Warga Jakarta Dipakai Orang Lain untuk Vaksinasi Covid-19  di Tangsel

Polisi Usut Dugaan NIK Warga Jakarta Dipakai Orang Lain untuk Vaksinasi Covid-19 di Tangsel

Megapolitan
Satpam GBK yang Pukul Mahasiswa Ingin Damai, Korban Masih Pikir-pikir

Satpam GBK yang Pukul Mahasiswa Ingin Damai, Korban Masih Pikir-pikir

Megapolitan
Bansos Tunai Warga Tapos Depok Dipotong Rp 150.000, untuk Yang Tak Dapat dan buat Agustusan

Bansos Tunai Warga Tapos Depok Dipotong Rp 150.000, untuk Yang Tak Dapat dan buat Agustusan

Megapolitan
Luhut Tinjau Proyek Penanganan Banjir di Jakarta

Luhut Tinjau Proyek Penanganan Banjir di Jakarta

Megapolitan
Terdakwa Kasus Prostitusi Anak Cynthiara Alona Jalani Sidang Perdana Hari Ini

Terdakwa Kasus Prostitusi Anak Cynthiara Alona Jalani Sidang Perdana Hari Ini

Megapolitan
Kowantara Minta Polisi Usut Pungli yang Dialami Pengusaha Warteg di Ciputat

Kowantara Minta Polisi Usut Pungli yang Dialami Pengusaha Warteg di Ciputat

Megapolitan
Anggaran Baju DPRD Kota Tangerang yang Naik 2 Kali Lipat Dinilai Tak Wajar

Anggaran Baju DPRD Kota Tangerang yang Naik 2 Kali Lipat Dinilai Tak Wajar

Megapolitan
24 Penimbun dan Penjual Obat Terkait Covid-19 di Atas HET Ditangkap

24 Penimbun dan Penjual Obat Terkait Covid-19 di Atas HET Ditangkap

Megapolitan
Protes Karyawan Garuda Indonesia: Harga Tes Swab PCR Penumpang Lebih Mahal dari Tiket Pesawat

Protes Karyawan Garuda Indonesia: Harga Tes Swab PCR Penumpang Lebih Mahal dari Tiket Pesawat

Megapolitan
UPDATE: Kasus Baru Covid-19 Tambah 241 di Kota Tangerang

UPDATE: Kasus Baru Covid-19 Tambah 241 di Kota Tangerang

Megapolitan
PAUD di Cipayung Disegel karena Gelar Belajar Tatap Muka Saat PPKM Level 4

PAUD di Cipayung Disegel karena Gelar Belajar Tatap Muka Saat PPKM Level 4

Megapolitan
Jakarta-London Siap Berkolaborasi Perkuat Ketahanan Iklim

Jakarta-London Siap Berkolaborasi Perkuat Ketahanan Iklim

Megapolitan
3 Fakta Seputar Kasus Warga Bekasi Sempat Tak Bisa Divaksinasi karena NIK Dipakai Orang Lain

3 Fakta Seputar Kasus Warga Bekasi Sempat Tak Bisa Divaksinasi karena NIK Dipakai Orang Lain

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X