Kompas.com - 24/11/2017, 18:29 WIB
Massa ojek online membentangkan spanduk di Lapangan IRTI sebelum long march ke Kemenhub dan Istana Negara, Kamis (23/11/2017). Ridwan Aji Pitoko/KOMPAS.comMassa ojek online membentangkan spanduk di Lapangan IRTI sebelum long march ke Kemenhub dan Istana Negara, Kamis (23/11/2017).
Penulis Stanly Ravel
|
EditorDian Maharani

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Darmaningtyas menilai, masalah utama ojek online adalah dengan penyedia aplikasinya. Menurut Darma, ojek online yang selama ini dianggap mitra oleh aplikator sebenarnya bekerja seperti halnya buruh.


"Buat saya sebutan mitra itu sebenarnya hanya kata halus saja, karena tepatnya ojek online itu buruh juga. Jadi masalah intinya mereka itu sebenarnya antara majikan dan buruh," kata Darma kepada Kompas.com, Jumat (24/11/2017).

Darma menyampaikan, pendapatan para ojek online kini menurun dibanding dulu. Sebab, ojek online semakin banyak dari berbagai aplikator. Masalah ini pun tidak diperhatikan oleh penyedia aplikasi.

"Harus diketahui, pihak aplikator itu tidak mengetahui masalah di lapangan. Intinya mereka mencari untung. Dengan makin banyak pengendara maka untungnya yang didapat juga banyak," papar Darma.

Baca juga : Tahun Depan, Mengajukan Izin Usaha Bisa Online

Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran) Darmaningtyas saat ditemui Selasa (8/8/2017) Kompas.com/Alsadad Rudi Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran) Darmaningtyas saat ditemui Selasa (8/8/2017)

Darma tidak setuju bila pemerintah akan membuat regulasi khusus untuk ojek online. Darma menilai hal tersebut sama saja dengan melegalkan motor sebagai sarana transportasi umum.

Menurut Darma, bila landasanya untuk melindungi hak-hak para pengemudi ojek online, harusnya aksi massa ditujukan ke pihak aplikator.

"Lebih tepatnya mereka (ojek online) melakukan aksi itu ke penyedia jasa (aplikator), karena yang merugikan mereka itu kan aplikatornya," ucap Darma

Darma menilai bila mau, pemerintah hanya memberikan teguran ke pihak aplikasi untuk tidak melakukan tindakan atau aturan yang bisa merugikan para mitranya.

Baca juga : Pemerintah Diminta Berhati-hati Terbitkan Regulasi Ojek Online

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Damkar Evakuasi Buaya Peliharaan Warga Depok

Damkar Evakuasi Buaya Peliharaan Warga Depok

Megapolitan
Polisi Gagalkan Penyelundupan 4 Liter Sabu Cair dari Meksiko

Polisi Gagalkan Penyelundupan 4 Liter Sabu Cair dari Meksiko

Megapolitan
Kuasa Hukum Korban Minta Polres Depok Segera Tangani Kasus Dugaan KDRT

Kuasa Hukum Korban Minta Polres Depok Segera Tangani Kasus Dugaan KDRT

Megapolitan
Terima Paket 4 Liter Sabu Cair dari Luar Negeri, Seorang Kurir Ditangkap di Cengkareng

Terima Paket 4 Liter Sabu Cair dari Luar Negeri, Seorang Kurir Ditangkap di Cengkareng

Megapolitan
Polisi Kabulkan Penangguhan Penahanan Perempuan yang Diduga Korban KDRT

Polisi Kabulkan Penangguhan Penahanan Perempuan yang Diduga Korban KDRT

Megapolitan
Kasus Anak Jual Kulkas Ibunya Berlanjut ke Meja Hijau, Kuasa Hukum Terdakwa: Sebaiknya Dihentikan

Kasus Anak Jual Kulkas Ibunya Berlanjut ke Meja Hijau, Kuasa Hukum Terdakwa: Sebaiknya Dihentikan

Megapolitan
Pedagang di Pasar Serpong Belum Tahu soal Kebijakan Harga Minyak Goreng Rp 14.000 Per Liter

Pedagang di Pasar Serpong Belum Tahu soal Kebijakan Harga Minyak Goreng Rp 14.000 Per Liter

Megapolitan
Bertambah 95, Kini Total Pasien Covid-19 di Wisma Atlet Capai 2.957

Bertambah 95, Kini Total Pasien Covid-19 di Wisma Atlet Capai 2.957

Megapolitan
PTM di 18 Sekolah di Jakpus Dihentikan karena Temuan Kasus Covid-19, Total 37 Siswa Terpapar

PTM di 18 Sekolah di Jakpus Dihentikan karena Temuan Kasus Covid-19, Total 37 Siswa Terpapar

Megapolitan
Polisi Dalami Tujuan Kakek 89 Tahun Kendarai Mobil Sebelum Tewas Dikeroyok

Polisi Dalami Tujuan Kakek 89 Tahun Kendarai Mobil Sebelum Tewas Dikeroyok

Megapolitan
Usut Pembongkaran Trotoar di Cilandak, Wali Kota Akan Panggil Sudin Bina Marga

Usut Pembongkaran Trotoar di Cilandak, Wali Kota Akan Panggil Sudin Bina Marga

Megapolitan
Pertunjukan Barongsai Saat Perayaan Imlek di Vihara Amurva Bhumi Ditiadakan

Pertunjukan Barongsai Saat Perayaan Imlek di Vihara Amurva Bhumi Ditiadakan

Megapolitan
Kasus Omicron Terdeteksi di Jakarta Selatan, Wali Kota Minta Warga Patuhi Protokol Kesehatan

Kasus Omicron Terdeteksi di Jakarta Selatan, Wali Kota Minta Warga Patuhi Protokol Kesehatan

Megapolitan
Bertambah, Temuan Kasus Covid-19 Kini Ada di 90 Sekolah Jakarta

Bertambah, Temuan Kasus Covid-19 Kini Ada di 90 Sekolah Jakarta

Megapolitan
Kasus Covid-19 di PN Depok Bertambah, 21 Pegawai Terkonfirmasi Positif

Kasus Covid-19 di PN Depok Bertambah, 21 Pegawai Terkonfirmasi Positif

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.