Sulit Air Bersih, Ini Cara Warga Sekitar Lautan Sampah Bekasi Mandi dan Cuci

Kompas.com - 08/01/2019, 18:34 WIB
Tampak air sumur di permukiman warga menghitam pasca terimbas Kali Pisang Batu, Tarumajaya, Kabupaten Bekasi yang tercemar, Selasa (8/1/2019).KOMPAS.com/DEAN PAHREVI Tampak air sumur di permukiman warga menghitam pasca terimbas Kali Pisang Batu, Tarumajaya, Kabupaten Bekasi yang tercemar, Selasa (8/1/2019).

BEKASI, KOMPAS.com - Amin, warga Desa Setia Mulya mengatakan, dirinya memiliki cara khusus untuk menggunakan air sumur yang menghitam dan bau imbas dari Kali Pisang Batu di Tarumajaya, Kabupaten Bekasi yang sudah jadi lautan sampah.

Dia mengatakan, dirinya harus mengendap air yang diambil dari sumurnya selama 12 jam untuk menunggu lumpur turun dalam air, lalu air baru bisa digunakan untuk mencuci pakaian atau mandi.

Baca juga: Warga Sekitar Lautan Sampah di Bekasi Kesulitan Air Bersih

" Air harus diendapkan dulu 12 jam baru kami pakai. Kalau enggak begitu, air enggak layak buat dipakai. Biar tunggu lumpur pasirnya turun dulu," kata Amin kepada Kompas.com, Selasa (8/1/2019).


Meski sudah diendapkan, air masih tercium aroma bau tak sedap. Namun, Amin masih menggunakan air itu untuk mandi pagi dan sore hari.

"Ini saja sudah diendapin masih bau, jadi kami buat mandi pagi nih, nah itu malam sudah kami isi pakai ember. Terus kalau buat mandi sore, dari pagi sudah mulai kami isi air," ujar Amin.

Berbeda dengan Amin, Aflia lebih memilih membeli air PAM seharga Rp 6.000 per galon. Sebab, dirinya tidak kuat menahan bau air untuk mandi dan mencuci pakaian.

Baca juga: Kemenko Maritim Adakan Rapat Khusus Bahas Lautan Sampah di Bekasi

"Saya lebih milih beli air PAM, habis itu airnya bau, daripada kenapa-kenapa saya cari aman saja," tutur Aflia.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X