Aksi Moms UI, Sekelompok Ibu Bagikan Makanan Gratis untuk Mahasiswa Rantau

Kompas.com - 03/04/2020, 05:48 WIB
Ilustrasi corona virus (Covid-19) shutterstockIlustrasi corona virus (Covid-19)

DEPOK, KOMPAS.com - Manajemen Universitas Indonesia (UI) meminta mahasiswa-mahasiswanya dari luar Jabodetabek tak ke mana-mana selama pandemi Covid-19, apalagi mereka yang kesehatannya diragukan.

"Disarankan untuk tetap tinggal di Asrama UI atau rumah kost di sekitar kampus UI sampai situasi menjadi kondusif," tulis Sekretaris UI Agustin Kusmayati melalui edarannya yang diteken pada Senin (16/3/2020).

"Apabila ragu atas kondisi dirinya, dipersilakan tetap tinggal di Asrama UI atau indekos."

Kebijakan ini guna menekan potensi penularan Covid-19 ke kampung halaman masing-masing mahasiswa.

Baca juga: Gelar Resepsi Pernikahan di Tengah Pandemi Covid-19, Kapolsek Kembangan Dicopot

Namun, sebagai konsekuensinya, para mahasiswa ini harus bertahan hidup di tengah segala pembatasan aktivitas, termasuk merosotnya jumlah warung yang menyediakan makanan di sekitar kampus.

UI sendiri punya program membagikan susu setiap hari bagi para penghuni asrama. Namun, tentu saja itu belum cukup.

Sekelompok ibu yang menamai kelompoknya " Moms UI" berinisiatif membantu para mahasiswa rantau dengan mengirimkan paket-paket makanan ke tempat tinggal mereka, baik di Asrama UI maupun rumah-rumah kost di sekitar kampus.

Aksi ini kemudian dibagikan oleh salah satu penghuni rumah kost di sekitar UI, melalui akun media sosialnya.

Baca juga: Kisah Pramugara Berjuang di Tengah Pandemi Covid-19...

Sontak, utas (thread) tersebut viral dan menggayung sambutan positif dari berbagai kolega "senasib" yang membutuhkan bantuan kiriman paket makanan.

Awal mula

Titi Reza, koordinator aksi ini berujar, para anggota "Moms UI" yang terdiri dari 60-70 orang, sebetulnya merupakan orangtua para murid SMAN 34 yang anaknya kini jadi mahasiswa kampus kuning.

"Salah satunya, namanya Mbak Iwel, dia bilang bahwa dia lihat di Instagram, katanya anak-anak Asrama UI banyak yang kurang makan, karena warteg tutup dan lain-lain," kata dia memulai kisah kepada Kompas.com, Rabu (1/4/2020).

"Ya sudah, aku share di grup, barangkali ada yang mau bantu. Kemudian, alhamdulillah, ibu-ibu menyahut mau bantu, mereka kumpulkan (uang), kemudian saya yang masakin," jelas Titi.

Titi kedapatan peran sebagai koordinator aksi sekaligus orang yang menyiapkan makanan karena sepak terjangnya yang kerap ambil bagian dalam program Jumat Barokah: membuat puluhan paket nasi bungkus untuk dibagikan secara cuma-cuma kepada orang yang membutuhkan.

Baca juga: Pemerintah Pusat dan Pemprov DKI Akan Beri Rp 1 Juta untuk 3,7 Juta Warga Terdampak Corona

Belum sampai sepekan info itu menyebar di grup, Titi mengaku sudah ada dana sekitar Rp 6.000.000 yang telah terhimpun hingga hari ini, dari hasil urunan para ibu Moms UI itu.

Ia mengklaim tak mengalami kesulitan berarti dalam menggerakkan aksi ini. Hal ini juga berkat dukungan dari para pembantunya selama ini yang biasanya berpartisipasi dalam program Jumat Barokah.

Untuk pemasok bahan makanan, misalnya. Titi sudah punya langganan pemasok bahan makanan untuk program Jumat Barokah.

"Saya juga pesan sayur langsung ke tukang sayur, misalnya buncis langsung 5 kilogram. Termasuk pasokan dari tukang ayam yang biasa mengantar. Apalagi kita tahu, ayamnya dia ayam potong bersih, enggak sembarang ayam,” ujar dia.

“Kalau kita ada budget lebih, kita juga bisa bikin daging rendang, sudah ada tukang rendangnya, daging potong langsung," imbuh Titi.

Para juru masak juga ambil peran yang tak kalah krusial. Meskipun di tengah masa pandemi, tiga orang juru masak yang biasanya menyiapkan 250 paket makanan Jumat Barokah kini tetap mau menyiapkan paket-paket makanan untuk para mahasiswa rantau.

"Mereka sudah terbiasa dan terlatih untuk memberikan yang terbaik. Karena wabah ini, kita enggak pernah kumpul, ternyata mereka bersedia untuk masak-masak," ujar Titi.

"Isinya biasa saja sih. Nasi, ayam entah digulai atau direndang atau dibakar, kemudian tumis sayur. Saya berharap itu cukup untuk mereka," ia menambahkan.

Hasil paket-paket yang dimasak di rumah masing-masing juru masak barulah dihimpun di kediaman Titi.

Sekaligus bantu ojek online

Setelah paket-paket makanan tersebut dihimpun di kediaman Titi di bilangan Jakarta Selatan, barulah semuanya didistribusikan ke kediaman para mahasiswa rantau.

Pengiriman paket makanan gratis pertama sudah dilakukan pada Selasa (31/3/2020) lalu.

Total ada 115 penerima di Asrama UI dan 20 penerima di rumah-rumah kost di sekitar kampus.

Namun, selain membantu mahasiswa rantau yang "terjebak" dan kesulitan cari makan karena warung-warung tutup, aksi ini juga untuk membantu pengemudi ojek online yang pendapatannya merosot.

Titi mengaku menugaskan satu pengemudi ojek online saja dalam pengiriman makanan gratis ini.

Hal itu guna menjamin higienitas makanan. Karenanya, ojek online itu mengantar makanan tanpa dipesan via aplikasi.

"Karena kan ngeri (jika lewat aplikasi), ojeknya ke mana dulu, cuci tangan atau enggak, kita tidak tahu, Kalau begini dia kan terpantau sama kita. Kita harus steril banget kalau soal makanan," kata Titi.

Dalam menugaskan ojek online ini, ia mengklaim bahwa tak ada patokan harga yang membuat rumit perhitungan. Ia tak mengenakan tarif seperti tarif sewa di aplikasi.

"Pokoknya ekstra lah dia. Dia juga enggak menentukan, seikhlasnya kita," ujar Titi.

'Tapi lebih tinggi dari kalau pakai aplikasi lah. Saya pikir-pikir dia juga akan lebih terbantu kan, daripada hitungan sini ke sini Rp 10.000, sini ke sini Rp 20.000, Rp 50.000, dan seterusnya.”

Solidaritas menguat sambut peminat

Titi tak menampik jika aksi ini tentu akan merebut banyak perhatian para mahasiswa rantau lain yang tempo hari belum kebagian “jatah”. Bukan tak mungkin, peminatnya akan semakin banyak.

Namun, ia mengaku tak berkeberatan jika hal itu terjadi. Ia sendiri sudah melihat ada tanda-tanda ke arah sana, sejak aksi bagi-bagi makanan gratis itu dilancarkan Selasa lalu.

"Ada yang bilang, 'Bu, bisa nambah lagi enggak?', aku bilang bisa," ujar Titi.

“’Bu, aku boleh enggak?’, saya jawab boleh,” timpalnya.

"Inikan fokus untuk mahasiswa, berapa pun, insya Allah tercukupi lah. Bahan makanan juga enggak susah mencarinya," kata Titi yakin.

Titi meyakini bahwa sumbangan dana dari para ibu lainnya masih akan terus mengalir.

Sebab, menurut pengakuan dia, aksinya mulai menuai simpati dan solidaritas sesama ibu yang baru melihat foto-foto aksi tempo hari dan tergerak hatinya.

"Alhamdulillah, banyak orang yang memang sayang sama anak-anak mahasiswa, karena kan mereka juga merasakan punya anak, apalagi anak-anak itu jauh merantau," kata Titi.

Di luar itu, ada pula orangtua yang mau memberi sumbangsih langsung berupa bahan makanan, bukan uang saja.

"Misalnya, saya Jumat mau kirim nih roti. Teman saya yang jual roti bilang, dengan budjet sekian, dapat tiga roti. Tapi dia bilang, dia akan tambahi 1 roti gratis," jelas Titi.

"Besoknya lagi, di grup ada yang bilang lagi, 'saya mau tambahi susu untuk anak-anak mahasiswa, nanti totalnya berapa dikasih tahu saja'," kata dia menirukan ucapan rekannya.

Apalagi, berdasarkan perkiraannya, jumlah dana Rp 6 juta yang terkumpul pekan lalu sanggup mencukupi kebutuhan paket makanan gratis para mahasiswa rantau hingga 3 pekan ke depan, dengan 2 kali pengiriman sepekan.

Tambah lagi, kata Titi, masih ada peluang tambahan persediaan paket makanan dari para donatur yang biasanya ikut mengirimkan paket Jumat Barokah ke sekolah-sekolah melalui dia.

Sumbangan tersebut kini terhenti akibat pandemi Covid-19, sehingga donasi itu bisa dialihkan untuk para mahasiswa.

"Misalnya yang biasa saya kirim ke Al-azhar atau ke mana, kan pada tutup sekolahnya, jadi bisa saya alihkan juga ke Asrama UI tiap Jumat," sebut Titi.

Maka dari itu, ia tak ambil pusing jika para mahasiswa rantau yang berminat menerima paket makanan gratis ini, bertambah di hari-hari mendatang.

"Enggak ada kuota lah nanti buat penerimanya kalau makin banyak. Pokoknya kalau soal makanan mah cincai saja, berapa sih makanan yang diperlukan, nanti juga pasti ada saja. Kita nggak usah takut lah," tutup Titi.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Turap Longsor di Ciracas Belum Diperbaiki, Lurah Pastikan Masih Aman untuk Warga

Turap Longsor di Ciracas Belum Diperbaiki, Lurah Pastikan Masih Aman untuk Warga

Megapolitan
Ditinggalkan Pemiliknya dengan Kunci Tersangkut, Motor di Pondok Kopi Jadi Sasaran Tiga Maling

Ditinggalkan Pemiliknya dengan Kunci Tersangkut, Motor di Pondok Kopi Jadi Sasaran Tiga Maling

Megapolitan
UPDATE 22 Oktober: Total Kasus Covid-19 di Kota Tangerang Kini 2.011, Paling Banyak di Periuk

UPDATE 22 Oktober: Total Kasus Covid-19 di Kota Tangerang Kini 2.011, Paling Banyak di Periuk

Megapolitan
Terungkapnya Si Pembuang Kantong Sampah di Kalimalang, Menyerahkan Diri Setelah Video Viral

Terungkapnya Si Pembuang Kantong Sampah di Kalimalang, Menyerahkan Diri Setelah Video Viral

Megapolitan
Selain Pemilik yang Kabur dari Ambulans, Tujuh Terapis Panti Pijat Wijaya Juga Positif Covid-19

Selain Pemilik yang Kabur dari Ambulans, Tujuh Terapis Panti Pijat Wijaya Juga Positif Covid-19

Megapolitan
[UPDATE] Grafik Covid-19 22 Oktober: Masih Ada 1.345 Pasien yang Dirawat dan Isolasi Mandiri

[UPDATE] Grafik Covid-19 22 Oktober: Masih Ada 1.345 Pasien yang Dirawat dan Isolasi Mandiri

Megapolitan
Prakiraan Cuaca BMKG: Hujan Guyur Jakarta Pagi ini dan Bodebek Sore Nanti

Prakiraan Cuaca BMKG: Hujan Guyur Jakarta Pagi ini dan Bodebek Sore Nanti

Megapolitan
Wagub DKI: Di Seluruh Dunia, Pompa Diandalkan Hadapi Banjir

Wagub DKI: Di Seluruh Dunia, Pompa Diandalkan Hadapi Banjir

Megapolitan
4 Kiat Pesepeda di Jakarta agar Tak Dijambret

4 Kiat Pesepeda di Jakarta agar Tak Dijambret

Megapolitan
Ini 5 Masukan Risma kepada Pansus Banjir DPRD DKI Jakarta

Ini 5 Masukan Risma kepada Pansus Banjir DPRD DKI Jakarta

Megapolitan
Pembuang Sampah ke Kalimalang Mengaku Buang Sisa Makanan Pesta Ulang Tahun Anaknya

Pembuang Sampah ke Kalimalang Mengaku Buang Sisa Makanan Pesta Ulang Tahun Anaknya

Megapolitan
Pemprov DKI Belum Bahas Soal UMP 2021

Pemprov DKI Belum Bahas Soal UMP 2021

Megapolitan
UPDATE 22 Oktober: Bertambah 44 Kasus Positif, 169 Pasien Covid-19  di Tangsel Masih Dirawat

UPDATE 22 Oktober: Bertambah 44 Kasus Positif, 169 Pasien Covid-19 di Tangsel Masih Dirawat

Megapolitan
Tak Tahan Punya Uang Pas-pasan, Residivis di Bekasi Ini Nekat Jualan Sabu

Tak Tahan Punya Uang Pas-pasan, Residivis di Bekasi Ini Nekat Jualan Sabu

Megapolitan
Menristek/BRIN Pastikan Kompleks Batan Indah Sudah Bebas dari Paparan Zat Radioaktif

Menristek/BRIN Pastikan Kompleks Batan Indah Sudah Bebas dari Paparan Zat Radioaktif

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X