Kompas.com - 05/03/2021, 16:33 WIB
Orang tua Asyifa Ramadhani, Suroto (kiri) dan Elisabeth Diana menghadiri sidang pembacaan putusan terhadap dua terdakwa pembunuh anaknya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (9/12/2014). Majelis hakim menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara kepada Ahmad Imam Al Hafitd dan Assyifa Ramadhani atas pembunuhan terhadap Ade Sara Angelina. KOMPAS / LUCKY PRANSISKAOrang tua Asyifa Ramadhani, Suroto (kiri) dan Elisabeth Diana menghadiri sidang pembacaan putusan terhadap dua terdakwa pembunuh anaknya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (9/12/2014). Majelis hakim menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara kepada Ahmad Imam Al Hafitd dan Assyifa Ramadhani atas pembunuhan terhadap Ade Sara Angelina.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pada Rabu (5/3/2014) malam, kediaman Suroto dan Elisabeth Diana di Kelurahan Jati, Pulogadung, Jakarta Timur didatangi polisi yang mengabarkan anak semata wayang mereka, Ade Sara Angelina Suroto (19), ditemukan tak bernyawa.

Suroto dan Elisabeth kehilangan kontak dengan Sara sejak Senin (3/3/2014) siang meski mereka berulang kali menghubungi nomor telepon seluler putrinya.

Mereka juga menghubungi teman-teman dekat putrinya, tapi hasil nihil.

Hingga akhirnya polisi menyampaikan kabar ke Suroto dan Elisabeth bahwa seorang perempuan muda yang diduga Sara ditemukan tewas di kilometer 41 Tol JORR ruas Bintara, Bekasi, Jawa Barat.

Baca juga: Hari Ini 7 Tahun Lalu, Ketika Ade Sara Ditemukan Tak Bernyawa di Pinggir Tol Usai Dibunuh Mantan Pacar...

Memaafkan pembunuh Sara

Saat jenazah Sara masih berada di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, untuk disemayamkan, Suroto dan Elisabeth mengetahui dari polisi bahwa pembunuh putrinya adalah Ahmad Imam Al Hafitd.

Mereka tahu Hafitd sebagai mantan pacar Sara yang telah lama putus.

Kemudian, polisi juga menginfokan bahwa ada pelaku lain bernama Assyifa Ramadhani yang adalah pacar baru Hafitd.

Sakit hati menjadi motif keduanya membunuh Sara, meski alasannya berbeda.
Hafitd membunuh Sara karena sang mantan tidak mau dihubungi apalagi bertemu, sementara Assyifa cemburu dan khawatir pacarnya kembali berpacaran dengan Sara.

Dalam rasa duka luar biasa yang mereka rasakan, Elisabeth mengatakan ia memaafkan pembunuh putrinya.

"Saya yakin mereka anak yang baik. Hanya, saat itu mereka tidak bisa menguasai sisi jahat dari diri mereka," ujar Elisabeth setelah pemakaman Sara di TPU Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, Jumat (7/3/2014).

Elisabeth menceritakan, ia tahu ketika Sara berpacaran dengan Hafitd saat SMA. Namun, hubungan keduanya memburuk setelah putus.

Hafitd bahkan sering melontarkan bahasa kasar terhadap Sara melalui Twitter.

"Saya bilang begini, kalau sudah putus, ya sudah jaga hubungan yang baik. Tapi, dia (Sara) bilang 'enggak bisa Ma' (Mama-red). 'Mama enggak tahu sih'. Dia (Sara) tunjukkan ke saya perkataan Hafitd di Twitter, dia foto dan kirim ke saya. Memang pantas (Sara) marah. Saya bisa menyadari, (perkatan Hafitd) kurang sopan," ujar Elisabeth.

Sempat tak kenali jenazah

Suroto mengatakan, ia sempat ragu ketika diminta untuk mengidentifikasi jenazah Sara.

Ade Sara Angelina Suroto (19), mahasiswa yang dibunuh mantan kekasihnya Ahmad Imam Al Hafitd (19). Mayat Ade dibuang di tol JORR ruas Bekasi, kilometer 41, Jawa Barat.  Ahmad dibantu Assyifa Ramadhani (19), kekasih barunya.Kompas.com/Robertus Belarminus Ade Sara Angelina Suroto (19), mahasiswa yang dibunuh mantan kekasihnya Ahmad Imam Al Hafitd (19). Mayat Ade dibuang di tol JORR ruas Bekasi, kilometer 41, Jawa Barat. Ahmad dibantu Assyifa Ramadhani (19), kekasih barunya.

Pasalnya, wajah putrinya sudah menghitam sehingga sulit dikenali.

"Sara meninggal dengan tidak wajar. Ada pukulan-pukulan di daerah tertentu yang menyebabkan pembusukan lebih awal," ujar Suroto dalam wawancara di program Mata Nadjwa Metro TV, pada 29 Oktober 2014.

"Mukanya sudah hitam sekali. Sudah enggak dikenalin. Bahkan bola matanya 90 persen sudah keluar. Jadi memang sudah sulit dikenali," terangnya.

Baca juga: Orangtua Ade Sara Memelas Minta Bertemu Pembunuh Anaknya di Rutan Salemba

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menengok Kolam Renang Atlantis Ancol yang Viral Karena Airnya Keruh

Menengok Kolam Renang Atlantis Ancol yang Viral Karena Airnya Keruh

Megapolitan
Kenangan soal Keinginan Tien Soeharto di Balik Megahnya Masjid At-Tin TMII

Kenangan soal Keinginan Tien Soeharto di Balik Megahnya Masjid At-Tin TMII

Megapolitan
Jadwal Imsak dan Buka Puasa di Tangerang Raya Hari Ini, 17 April 2020

Jadwal Imsak dan Buka Puasa di Tangerang Raya Hari Ini, 17 April 2020

Megapolitan
Jadwal Imsak dan Buka Puasa di Jakarta Hari Ini, 17 April 2021

Jadwal Imsak dan Buka Puasa di Jakarta Hari Ini, 17 April 2021

Megapolitan
Jadwal Imsak dan Buka Puasa di Kota Bogor Hari Ini, 17 April 2021

Jadwal Imsak dan Buka Puasa di Kota Bogor Hari Ini, 17 April 2021

Megapolitan
Valentino Simanjuntak dan Pentingnya Komentator Sepak Bola bagi Oki Kurnia yang Tunanetra

Valentino Simanjuntak dan Pentingnya Komentator Sepak Bola bagi Oki Kurnia yang Tunanetra

Megapolitan
Surat Eksekusi Lahan di Pinang Tak Bisa Dicabut, Ini Penjelasan PN Tangerang

Surat Eksekusi Lahan di Pinang Tak Bisa Dicabut, Ini Penjelasan PN Tangerang

Megapolitan
2 Sepeda Motor Bertabrakan di Duren Sawit, 1 Pengendara Tewas

2 Sepeda Motor Bertabrakan di Duren Sawit, 1 Pengendara Tewas

Megapolitan
Pencuri Koil Mobil di Karang Tengah, Tangerang, Ditangkap Warga

Pencuri Koil Mobil di Karang Tengah, Tangerang, Ditangkap Warga

Megapolitan
Pembangunan Jalur MRT Bawah Tanah Fase 2A Disebut Lebih Menantang

Pembangunan Jalur MRT Bawah Tanah Fase 2A Disebut Lebih Menantang

Megapolitan
Update 16 April: 228 Pasien Covid-19 Masih Dirawat di Kota Tangerang

Update 16 April: 228 Pasien Covid-19 Masih Dirawat di Kota Tangerang

Megapolitan
Mafia Tanah Saling Gugat Pakai Surat Palsu, Mengapa PN Tangerang Keluarkan Surat Eksekusi Lahan?

Mafia Tanah Saling Gugat Pakai Surat Palsu, Mengapa PN Tangerang Keluarkan Surat Eksekusi Lahan?

Megapolitan
[Update 16 April]: Bertambah 979, Kasus Covid-19 di Jakarta Kini 397.088

[Update 16 April]: Bertambah 979, Kasus Covid-19 di Jakarta Kini 397.088

Megapolitan
Anggota DPRD DKI: Seleksi PPDB 2021 Utamakan Zona RT/RW

Anggota DPRD DKI: Seleksi PPDB 2021 Utamakan Zona RT/RW

Megapolitan
Begal di Tebet Tewas Diduga karena Kepala Terbentur dan Diamuk Massa

Begal di Tebet Tewas Diduga karena Kepala Terbentur dan Diamuk Massa

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X