Tanggapan Warga dan Pengendara terhadap Sistem Satu Arah di Cipayung

Kompas.com - 21/11/2018, 15:21 WIB
Beberapa petugas Sudinhub Jaktim dan Satpol PP berjaga di Jalan Kramat Utama, Setu, Cipayung salah satu Jalan yang diterapkan sistem satu arah, Rabu (21/11/2018) KOMPAS.com/Ryana AryaditaBeberapa petugas Sudinhub Jaktim dan Satpol PP berjaga di Jalan Kramat Utama, Setu, Cipayung salah satu Jalan yang diterapkan sistem satu arah, Rabu (21/11/2018)

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah warga mengapresiasi penerapan Sistem Satu Arah (SSA) di beberapa ruas jalan Cipayung, Jakarta Timur.

Terlebih sistem satu arah ini merupakan permintaan dari warga RT 003 dan RT 004, RW 007 di wilayah tersebut melalui Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK) kepada Suku Dinas Perhubungan Jakarta Timur.

Mereka berharap, dengan adanya sistem satu arah ini tidak terjadi lagi kemacetan pada jam-jam sibuk.

Baca juga: Sistem Satu Arah Diterapkan di Sejumlah Ruas Jalan di Jaktim

Salah seorang warga, Yakup (42) mengungkapkan bahwa sebelum adanya pemberlakukan sistem satu arah ini, setiap pagi dan sore kerap terjadi kemacetan. Hal tersebut membuat aktivitas warga sekitar terganggu.

"Kalau pagi itu macet, apalagi sore itu buset kami mau lewat saja susah. Jadi bagus menurut saya kalau diberlakukan satu arah. Mobil sama mobil sering bentrok dan kendaraan roda dua enggak mau kalah, itu bikin stuck. Makanya kadang-kadang warga terjun buat lancarin arus lalu lintas," kata Yakup, Rabu (21/11/2018).

Hal serupa juga diungkapkan Wilda (45), seorang warga yang bermukim di Jalan Kramat Oyar.

Adanya pemberlakuan satu arah membuat dirinya sedikit bernapas lega karena volume kendaraan yang lewat di jalan dengan dua lajur tersebut menjadi lebih terkendali.

"Kalau kami sih setuju saja, bagus malahan jadi enggak macet. Soalnya kalau sudah jam pulang kerja itu memang macet, karena jalan ini kan emang biasa digunakan pengendara untuk menghindari kemacetan di jalan utama. Jadi banyak yang pakai jalan ini," ucapnya.

Baca juga: Sistem Satu Arah Jalan KH Wahid Hasyim Diklaim Tingkatkan Kecepatan Kendaraan

Ia menambahkan, dengan adanya sistem satu arah ini setidaknya dapat mengantisipasi kecelakaan, terutama karena banyaknya anak di bawah umur yang sering bermain-main.

"Jalan ini kan dekat ya sama depan rumah warga, apalagi kalau sore banyak anak-anak, takutnya banyak kendaraan yang melintas justru mengakibatkan kecelakaan. Apalagi polisi tidur jarang, makanya kayaknya perlu dibangun polisi tidur," ujarnya.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Polisi Tunggu Hasil Otopsi Jasad Bayi yang Ditemukan di Kali Pulogadung

Polisi Tunggu Hasil Otopsi Jasad Bayi yang Ditemukan di Kali Pulogadung

Megapolitan
Polisi Temukan Pisau dan Bercak Darah di Mobil Sopir Taksi Online yang Tewas di Bekasi

Polisi Temukan Pisau dan Bercak Darah di Mobil Sopir Taksi Online yang Tewas di Bekasi

Megapolitan
[POPULER JABODETABEK] Gempa di Jakarta Serasa 'Nyungsep' | Sawangan Kini Terbanyak Kasus Covid-19 di Depok

[POPULER JABODETABEK] Gempa di Jakarta Serasa "Nyungsep" | Sawangan Kini Terbanyak Kasus Covid-19 di Depok

Megapolitan
Hari Terakhir PPDB Jakarta hingga Pukul 15.00 WIB, Masih Ada Kursi Kosong di 115 SMAN

Hari Terakhir PPDB Jakarta hingga Pukul 15.00 WIB, Masih Ada Kursi Kosong di 115 SMAN

Megapolitan
Pro Kontra Keputusan Anies Izinkan Reklamasi Ancol di Mata Anggota DPRD DKI

Pro Kontra Keputusan Anies Izinkan Reklamasi Ancol di Mata Anggota DPRD DKI

Megapolitan
Ratusan Pegawai di Lingkungan Kantor Wali Kota Jakut Jalani Rapid Test

Ratusan Pegawai di Lingkungan Kantor Wali Kota Jakut Jalani Rapid Test

Megapolitan
UPDATE Grafik 7 Juli di Depok: Tambah 13 Kasus, 21 Pasien Sembuh

UPDATE Grafik 7 Juli di Depok: Tambah 13 Kasus, 21 Pasien Sembuh

Megapolitan
Prakiraan Cuaca BMKG Rabu: Jakarta Hujan Siang dan Sore Nanti

Prakiraan Cuaca BMKG Rabu: Jakarta Hujan Siang dan Sore Nanti

Megapolitan
Pengunjung Top One Diminta Sembunyi Saat Digerebek, Dikunci di Ruangan Gelap dan Pengap

Pengunjung Top One Diminta Sembunyi Saat Digerebek, Dikunci di Ruangan Gelap dan Pengap

Megapolitan
PPDB Jakarta Tahap Akhir Sisakan 2.512 Kursi di 115 SMA Negeri, Ini Daftarnya

PPDB Jakarta Tahap Akhir Sisakan 2.512 Kursi di 115 SMA Negeri, Ini Daftarnya

Megapolitan
JPO GBK Dirusak Aksi Vandalisme

JPO GBK Dirusak Aksi Vandalisme

Megapolitan
Ojek Online Diizinkan Bawa Penumpang di Kota Bekasi Mulai Kamis Besok

Ojek Online Diizinkan Bawa Penumpang di Kota Bekasi Mulai Kamis Besok

Megapolitan
Politisi PAN Sebut Reklamasi Ancol Bisa Tambah Pendapatan Daerah

Politisi PAN Sebut Reklamasi Ancol Bisa Tambah Pendapatan Daerah

Megapolitan
PSBB Transisi, Anak Berusia di Bawah 5 Tahun dan Lansia Dilarang Nonton di Bioskop DKI

PSBB Transisi, Anak Berusia di Bawah 5 Tahun dan Lansia Dilarang Nonton di Bioskop DKI

Megapolitan
Update 7 Juli: 7 Kasus Baru, Covid-19 di Kota Tangerang Berjumlah 507

Update 7 Juli: 7 Kasus Baru, Covid-19 di Kota Tangerang Berjumlah 507

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X