Kompas.com - 02/05/2019, 20:39 WIB
Warga menebar jala saat memancing di sungai berbusa di Perairan Kanal Banjir Timur (KBT), kawasan Marunda, Jakarta Utara, Sabtu (24/3/2018). Busa yang memenuhi KBT selepas Pintu Air Weir 3 Marunda ini akibat limbah rumah tangga. KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGWarga menebar jala saat memancing di sungai berbusa di Perairan Kanal Banjir Timur (KBT), kawasan Marunda, Jakarta Utara, Sabtu (24/3/2018). Busa yang memenuhi KBT selepas Pintu Air Weir 3 Marunda ini akibat limbah rumah tangga.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Seksi Pengawasan dan Pengendalian Dampak Lingkungan Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara Suparman mengatakan, ikan di aliran Kanal Banjir Timur, tepatnya di sekitar Pintu Air Weir 3 Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, masih aman dikonsumsi. 

Padahal, busa memenuhi aliran air di sana. 

"Masih aman (konsumsi ikan) di situ. Masih banyak penjala dan pemancing ikan bertebaran mencari ikan, meski di atas air berbusa. Selama ini juga belum ada keluhan orang sakit perut dan keluhan lainnya setelah mengonsumsi ikan dari situ, jadi masih dalam batas aman untuk dikonsumsi," ujar Suparman, Kamis (2/5/2019). 

Baca juga: Limbah Rumah Tangga Penyebab Munculnya Busa di Pintu Air di Marunda

Meski demikian, pihaknya tak menampik adanya kandungan deterjen pada air di kali tersebut.

Menurut dia, selama biota air masih dapat hidup, berarti baku air masih dalam ambang batas wajar.

"Kalau memang (pencemaran) sudah sangat tinggi, biota air tidak bisa bertahan hidup di situ," katanya. 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Busa di Kali Item dan Rencana DKI Atur Usaha Cuci Mobil dan Laundry

Suparman mengatakan, busa timbul akibat limbah rumah tangga.

Ia berharap pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal dapat menjadi solusi, terutama untuk limbah rumah tangga.

"Karena DKI Jakarta belum punya IPAL komunal untuk limbah rumah tangga. Jadi limbah itu langsung dibuang ke sungai, tanpa diolah dulu oleh warga," ucap Suparman.

Baca juga: Pintu Air Weir 3 Marunda Berbusa, Warga Merasa Tak Terganggu

Ia mengatakan, busa di kali tersebut bukan berasal dari limbah rumah tangga warga sekitar.

"(Limbah rumah tangga) di Jakarta Utara sama sekali tidak ada yang masuk ke KBT, tetapi itu hulunya di Cipinang, tambah lagi masuk ke Pondok Ungu, hanya transit muaranya di Utara," ujarnya. 

Kemunculan busa disebabkan turbulensi, yakni bercampurnya debit air tinggi dengan air yang mengandung deterjen.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hujan Lebat di Bogor, Pohon Tumbang Timpa Rumah Warga

Hujan Lebat di Bogor, Pohon Tumbang Timpa Rumah Warga

Megapolitan
Gagalkan Sejumlah Tawuran, Polisi: Kami Patroli Benar-benar Sampai Pagi

Gagalkan Sejumlah Tawuran, Polisi: Kami Patroli Benar-benar Sampai Pagi

Megapolitan
PPKM Kota Bogor Turun ke Level 2, Bima Arya Bersyukur

PPKM Kota Bogor Turun ke Level 2, Bima Arya Bersyukur

Megapolitan
UPDATE 19 Oktober: Tambah 9 Kasus Covid-19 di Tangsel, 105 Pasien Masih Dirawat

UPDATE 19 Oktober: Tambah 9 Kasus Covid-19 di Tangsel, 105 Pasien Masih Dirawat

Megapolitan
Dishub Kota Tangerang: Jumlah Penumpang Angkot Tak Sampai 50 Persen

Dishub Kota Tangerang: Jumlah Penumpang Angkot Tak Sampai 50 Persen

Megapolitan
Taman Kota di Bogor Belum Dibuka meski Status PPKM Sudah Level 2

Taman Kota di Bogor Belum Dibuka meski Status PPKM Sudah Level 2

Megapolitan
Polisi Usut 11 Perusahaan Pinjol Diduga Ilegal di Jakbar

Polisi Usut 11 Perusahaan Pinjol Diduga Ilegal di Jakbar

Megapolitan
Tawuran Sering Direncanakan Lewat Medsos, Polisi Akan Identifikasi Akun

Tawuran Sering Direncanakan Lewat Medsos, Polisi Akan Identifikasi Akun

Megapolitan
Tak Ada Pasien Covid-19 Tiga Hari Terakhir, Tempat Isoman Wisma Makara UI Ditutup

Tak Ada Pasien Covid-19 Tiga Hari Terakhir, Tempat Isoman Wisma Makara UI Ditutup

Megapolitan
Satgas: Satu Siswa SMPN 10 Depok Positif Covid-19 Terpapar dari Keluarga

Satgas: Satu Siswa SMPN 10 Depok Positif Covid-19 Terpapar dari Keluarga

Megapolitan
Tak Lagi Khusus Pasien Covid-19, RSU Serpong Utara Kini Buka Layanan Kesehatan Umum

Tak Lagi Khusus Pasien Covid-19, RSU Serpong Utara Kini Buka Layanan Kesehatan Umum

Megapolitan
Perempuan Korban Tabrak Lari di Tol Sedyatmo Sebelumnya Diduga Depresi

Perempuan Korban Tabrak Lari di Tol Sedyatmo Sebelumnya Diduga Depresi

Megapolitan
PPKM Level 2, Kapasitas Penumpang Angkutan Umum di Kota Tangerang Boleh 100 Persen

PPKM Level 2, Kapasitas Penumpang Angkutan Umum di Kota Tangerang Boleh 100 Persen

Megapolitan
Kasus Remaja Disekap dan Dilecehkan Penjaga Warung di Pamulang, Polisi: Diselesaikan Kekeluargaan

Kasus Remaja Disekap dan Dilecehkan Penjaga Warung di Pamulang, Polisi: Diselesaikan Kekeluargaan

Megapolitan
Kota Bogor PPKM Level 2, Sarana Olahraga hingga Wisata Air Dapat Kelonggaran

Kota Bogor PPKM Level 2, Sarana Olahraga hingga Wisata Air Dapat Kelonggaran

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.